AFU.id

Arah Perekonomian Nasional 2027: Target 6% Diuji Risiko Global dan Tekanan Daya Beli

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada tahun 2027, meskipun dihadapkan pada berbagai risiko global dan tantangan daya beli masyarakat. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, pemerintah berkomitmen untuk menjaga inflasi di angka 2,5% dan mengurangi tingkat kemiskinan serta pengangguran. Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan pentingnya investasi yang tidak hanya meningkatkan angka ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menjadikan pertumbuhan inklusif sebagai fokus utama kebijakan ekonomi.

Arah Perekonomian Nasional 2027: Target 6% Diuji Risiko Global dan Tekanan Daya Beli
Pemerintah RI menggelar konferensi Pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 yang sekaligus menetapkan arah perekonomian nasional 2027. (Foto: Kemenko Perekonomian RI)

Langkah Transformasi Ekonomi Indonesia

Lebih lanjut, aktivitas ekonomi riil memperlihatkan pertumbuhan melalui penjualan mobil 33,3%, konsumsi listrik 10,8%, dan penjualan semen 13,5% secara tahunan. Dari sektor keuangan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,21% dan kredit meningkat 12,67% pada Juni 2026. Kredit investasi bahkan tumbuh 24,9%, adapun kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai pulih dengan pertumbuhan 1,05%.

Kemudian, ketahanan eksternal masih ditopang cadangan devisa USD145,3 miliar yang setara 5,5 bulan impor. Neraca perdagangan juga mencatat surplus kumulatif USD3,58 miliar sepanjang Januari-Juni 2026. Kondisi itu menjadi modal menghadapi volatilitas global yang masih rentan terhadap konflik geopolitik dan perubahan harga komoditas.

Di sisi fiskal, Pemerintah RI telah menggelontorkan stimulus sekitar Rp70 triliun (kuartal I) dan Rp26,34 triliun pada kuartal kedua. Kebijakan itu mencakup insentif pajak, transportasi, pembebasan biaya masuk Liquefied Petroleum Gas (LPG), program magang, vokasi, sampai dengan bantuan pangan. Pemerintah juga menyiapkan perlindungan sosial 2027 senilai Rp549,9 triliun demi menjaga daya beli kelompok rentan.

Langkah transformasi arah perekonomian nasional 2027 pun mengarah pada sektor bernilai tambah tinggi seperti digitalisasi, semikonduktor, dan artificial intelligence (AI). Pemerintah RI turut memperkuat pertanian dan energi, termasuk rencana pembentukan bursa komoditas mineral sebagai acuan Indonesia Reference Price. Penguatan investasi dan ekspor akan ditempuh melalui deregulasi, perjanjian internasional, serta pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia.

Airlangga Hartarto menyampaikan, Pemerintah RI berkomitmen penuh untuk fokus memperkuat ketahanan perekonomian nasional dan mempercepat pencapaian sasaran pembangunan pada 2027. Termasuk memastikan setiap kebijakan dan alokasi anggaran dapat memberikan dampak nyata kepada segenap rakyat Indonesia. “Baik itu dalam menjaga stabilitas ekonomi, memperluas, kesempatan kerja, maupun meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tuturnya.

Arah Perekonomian Nasional 2027 Harus Berujung pada Kesejahteraan

Pencapaian pertumbuhan tinggi tak otomatis menunjukkan keberhasilan pembangunan apabila manfaat ekonomi gagal menjangkau masyarakat secara luas. Presiden RI, Prabowo Subianto menegaskan investasi dan pertumbuhan harus menghasilkan pekerjaan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Orientasi itu menempatkan kesejahteraan sebagai ukuran akhir keberhasilan kebijakan ekonomi.

Prabowo Subianto menjelaskan, pertumbuhan dan investasi bukan tujuan akhir dalam era pemerintahannya, melainkan kesejahteraan rakyat. Ia menekankan, setiap rupiah investasi harus berdampak nyata dalam menciptakan lapangan kerja dan perbaikan kualitas hidup masyarakat. “Terutama rakyat kita yang paling bahwa, itulah orientasi pemerintah yang saya pimpin, tidak boleh meninggalkan mereka yang tidak berdaya, dan tidak boleh membiarkan kelaparan ada di bumi Indonesia,” ujarnya.

Oleh karenanya, arah perekonomian nasional 2027 yang menargetkan pertumbuhan 6% membutuhkan keseimbangan antara ekspansi ekonomi, stabilitas makro, dan perlindungan masyarakat. Pemerintah RI harus memastikan investasi tak hanya meningkatkan angka produksi, tetapi juga memperluas lapangan kerja dan memperbaiki distribusi manfaat. Tantangan itu akan menentukan apakah arah perekonomian nasional 2027 benar-benar dapat menghasilkan pertumbuhan inklusif atau sekadar mengejar angka makroekonomi. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi