JAKARTA, AFU.ID — Komedian Cak Lontong membagikan sejumlah pantangan yang menurutnya perlu diperhatikan pelawak jika ingin penampilannya maksimal dan kariernya terus berkembang. Salah satunya berkaitan dengan air. Hal itu disampaikan Cak Lontong saat berbincang dengan Afu.id di Jakarta, Jumat (14/8/2026). Dengan gaya khasnya, dia menjelaskan ada sejumlah "pandangan pelawak" yang berkaitan dengan air di atas panggung.
Menurut komedian yang bernama asli Lies Hartono, pelawak sebaiknya tidak tampil apabila antara panggung dan penonton dipisahkan oleh air. Misalnya, panggung berada di satu sisi kolam sementara penonton berada di sisi lainnya. "Jadi pelawak itu nggak boleh tampil kalau antara panggung dan audiens itu dipisahkan oleh air. Ya kolam, misalnya kayak Saipul gitu ya, panggungnya di sini, penontonnya di seberang, itu nggak boleh," kata Cak Lontong.
Dia juga menyebut kondisi lain yang dianggap tidak ideal, yakni ketika panggung pelawak dibangun di atas kolam atau sumber air. "Atau yang seperti ini, panggung bisa didirikan di atas kolam, misalnya di Atlantis itu kan bikin panggung gede gitu," ujarnya. Dalam pandangan tersebut, air dianggap dapat menghambat energi antara pelawak dan penonton. "Energinya nggak akan sampai ke audiens, terserah oleh air," katanya.
Menurutnya, pandangan tersebut bukan sekadar cerita yang belum pernah diuji. Dia mengaku pernah mengalami atau mencoba kondisi yang kemudian membuatnya memahami pantangan tersebut. "Pernah, makanya akhirnya aku nggak sering jadi materi, karena dulu aku baru belajar seperti ini," tuturnya.
Dia kemudian merangkum tiga kondisi yang menurutnya berkaitan dengan air. Pertama, panggung dan audiens dipisahkan oleh air. Kedua, pelawak tampil di panggung yang didirikan di atas air atau kolam. Ketiga, pelawak tampil di dalam air. Meski demikian, dirinya menegaskan ketiga pantangan tersebut masih bisa dilanggar. Hanya saja, menurut dia, pelawak harus siap dengan risiko penampilannya tidak maksimal. "Tiga pandangan ini boleh dilanggar. Kalau risikonya, ya harus siap-siap kalau nggak maksimal hasilnya," kata dia.
Cak Lontong kemudian menyebut ada satu pantangan lain yang menurutnya justru jauh lebih penting dan tidak boleh dilanggar oleh seorang pelawak. "Yang keempat ini yang mematikan. Dan tidak boleh dilanggar. Jadi pelawak itu tidak boleh tampil kalau nggak dibayar," ujar Cak Lontong.
Cak Lontong menegaskan bahwa persoalan bayaran merupakan satu-satunya "pantangan" yang menurutnya benar-benar fatal bagi pelawak. Dia kemudian kembali menjelaskan alasan air dianggap dapat memengaruhi pertunjukan komedi. Menurutnya, komedi membutuhkan kedekatan antara pelawak dan audiens, baik secara fisik maupun psikologis. "Komedi itu secara fisik dan dalam memahami secara fisik dan psikis, itu nggak boleh jauh-jauh dengan energi," ujarnya.
Namun, ia tidak sepakat dengan anggapan bahwa air selalu identik dengan ketenangan. Dia mencontohkan masyarakat yang hidup di wilayah pesisir, termasuk orang Bugis, yang memiliki hubungan berbeda dengan laut. "Air itu kadang-kadang orang beranggapan bahwa itu adalah ketenangan, ya keliru. Bagi orang Bugis, air itu adalah kemarahan. Karena orang Bugis itu melawan ombak," katanya.
Menurut dia, pandangan mengenai air sebagai simbol ketenangan tidak selalu relevan bagi masyarakat yang sehari-hari berhadapan dengan laut dan ombak. "Kalau ada orang yang mengatakan bahwa air itu menggambarkan ketenangan, ya berarti dia tidak tinggal di pantai. Kalau di pantai itu ombak," pungakas Cak Lontong. (EER)