JAKARTA, AFU.ID – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) telah mengumumkan pergantian pemegang saham pengendali. Robert Budi Hartono kini menjadi pemegang saham tunggal PT Dwimuria Investama Andalan (DIA), induk perusahaan yang mengendalikan BCA. Pergantian pucuk pimpinan tersebut menyusul meninggalnya sang kakak, Bambang Hartono, yang sebelumnya menjadi pemegang saham pengendali bersama Robert.
Perubahan ini disampaikan BCA melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Meski status pengendali berubah, porsi kepemilikan saham Robert di PT DIA dipastikan tidak mengalami perubahan, yakni tetap sebesar 51 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor. Adapun kepemilikan PT DIA di BBCA sendiri hingga saat ini tercatat sebesar 54,942 persen.
"Informasi atau fakta material yang diungkapkan tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi dan kinerja keuangan, atau kelangsungan usaha Perseroan," tulis Corporate Secretary BBCA Rudy Budiardjo, dikutip Senin (3/8/2026). Kabar pergantian pucuk pimpinan ini muncul tak lama setelah BCA mengumumkan kinerja keuangan yang cukup solid sepanjang semester I 2026.
Dengan status barunya sebagai pemegang saham pengendali tunggal BCA, kekayaan Robert Budi Hartono pun kian melejit. Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per Senin 2 Agustus ini, kekayaan Robert tercatat mencapai US$15,7 miliar atau setara Rp283,5 triliun. Angka tersebut naik sekitar US$2 miliar dibandingkan catatan terakhir Katadata pada 27 Juli 2026, dengan mayoritas kekayaannya bersumber dari kepemilikan saham di BBCA.
Rekam Jejak Robert Budi Hartono
Robert Budi Hartono, yang memiliki nama lahir Oei Hwie Tjhong, merupakan putra kedua dari pendiri perusahaan rokok Djarum, Oei Wie Gwan. Dari sang ayah itulah tonggak kerajaan bisnis keluarga Hartono bermula. Pada 1951, Oei Wie Gwan mengakuisisi perusahaan rokok kecil bernama Djarum Gramophon dan mengganti namanya menjadi Djarum. Setelah pabrik Djarum terbakar pada 1963 dan Oei meninggal dunia, kepemimpinan perusahaan diteruskan oleh dua bersaudara, Budi dan Bambang Hartono.
Di bawah kendali keduanya, Djarum tumbuh pesat. Perusahaan mulai mengekspor produk rokok pada 1972, meluncurkan Djarum Filter pada 1975, dan memperkenalkan Djarum Super pada 1981, hingga kini menjelma menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia. Kesuksesan bisnis rokok inilah yang menjadi modal awal keluarga Hartono membangun gurita bisnis raksasa lintas sektor.
Langkah ekspansi paling mencolok terjadi usai krisis ekonomi Asia 1997-1998, ketika keluarga Hartono mengakuisisi saham BCA setelah keluarga Salim kehilangan kendali atas bank tersebut. Sepanjang sejarahnya, kepemilikan saham BCA tercatat telah berpindah tangan tiga kali, mulai dari Salim, beralih ke tangan negara, sebelum akhirnya jatuh ke Grup Djarum. Investasi di BCA inilah yang kemudian menjadi sumber utama kekayaan keluarga Hartono hingga saat ini.
Selain BCA, Grup Djarum turut merambah berbagai sektor bisnis, mulai dari properti, konsumer melalui PT Supra Boga Lestari Tbk (SUPR), perkebunan kelapa sawit, elektronik lewat PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), hingga teknologi digital yang mencakup PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR), dan PT Remala Abadi Tbk (DATA). Grup ini juga baru saja menjadi pengendali PT Bach Multi Global Tbk (BACH), emiten bisnis digital yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Di sektor properti, Grup Djarum mengembangkan sejumlah aset premium, termasuk Grand Indonesia di Jakarta. Di bidang elektronik, mereka menaungi Polytron yang telah lebih dari tiga dekade memproduksi perangkat elektronik rumah tangga, dan pada 2025 mulai merambah industri kendaraan listrik dengan meluncurkan dua model mobil listrik. Sementara di sektor digital, keluarga Hartono melalui GDP Ventures membangun portofolio investasi teknologi, salah satunya mengembangkan Blibli.
Pada 2022, PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) selaku induk usaha Blibli melantai di BEI dalam salah satu IPO terbesar tahun itu dengan menghimpun dana sekitar US$ 510 juta. Di luar dunia bisnis, Budi Hartono dikenal memiliki minat besar pada olahraga bulu tangkis. Berawal dari hobi, ia bersama keluarganya mendirikan PB Djarum pada 1969, yang kemudian melahirkan banyak atlet nasional, termasuk legenda bulu tangkis Liem Swie King.
Robert Budi Hartono menikah dengan Widowati atau Giok Hartono dan dikaruniai tiga putra, yakni Victor Hartono, Martin Hartono, dan Armand Hartono, yang kini turut berperan dalam berbagai lini bisnis Grup Djarum. Victor menjabat sebagai chief operating officer (COO) PT Djarum dan memimpin operasional inti pabrik rokok. Martin menjabat CEO GDP Venture (Global Digital Prima Venture), lengan investasi Grup Djarum yang fokus pada ekosistem internet, media digital, dan startup teknologi. Sementara Armand menjabat wakil presiden direktur BBCA. (NAD)