Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Akses Darat Mulai Pulih Pascagempa Bumi, 5 Bandara di NTT Tetap Beroperasi
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Kementerian Perhubungan Republik Indonesia melaporkan bahwa lima bandara di wilayah tersebut tetap beroperasi meskipun mengalami kerusakan. Meskipun infrastruktur transportasi, termasuk pelabuhan dan jalur darat, terdampak, upaya pemulihan akses darat telah dilakukan dan layanan transportasi tetap dijaga untuk mendukung distribusi bantuan. Kemenhub juga mengimplementasikan skema "Get Airport Ready for Disaster" untuk meningkatkan kesiapsiagaan bandara dalam situasi bencana dan memastikan koordinasi lintas sektor untuk kelancaran mobilisasi bantuan.
Gedung kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Reo yang berada di bawah DJPL Kemenhub RI mengalami kerusakan akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Provinsi NTT, Sabtu (15/8/2026). (Foto: Kemenhub RI)
JAKARTA, AFU.ID — Gempa bumi bermagnitudo 7,7 berdampak terhadap sejumlah infrastruktur transportasi usai mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Kerusakan tercatat pada lima bandara dan sejumlah pelabuhan dengan level kerusakan yang berbeda-beda. Kondisi itu membuat pemeriksaan fasilitas menjadi langkah penting untuk memastikan akses masyarakat tetap terjaga, sekaligus mendukung pedistribusian bantuan ke wilayah terdampak.
Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI) telah melakukan proses asesmen pascabencana alam yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026) lalu. Langkah itu untuk memetakan dampak pada infrastruktur transportasi, dengan fokus memeriksa bandara, pelabuhan, dan jalur pendukung yang menjadi simpul mobilitas utama di wilayah NTT. Upaya itu juga untuk memastikan seluruh layanan transportasi tetap berada dalam kondisi aman untuk digunakan masyarakat.
Pada sektor udara, kerusakan dilaporkan terjadi di Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo, H Hasan Aroeboesman di Ende, Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Frans Sales Lega di Ruteng, dan Soa di Bajawa. Kerusakan meliputi gedung terminal, gedung administrasi, fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK), serta sejumlah fasilitas sisi udara. Tingkat kerusakan di masing-masing bandara berbeda, tetapi seluruhnya masih dalam tahap evaluasi lanjutan.
Meski terdampak, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memastikan kelima bandara tersebut tetap beroperasi dan tak ada penutupan layanan penerbangan. Kondisi itu memungkinkan mobilisasi personel, peralatan, dan bantuan kemanusiaan tetap terlaksana melalui jalur udara. Ia juga memastikan operasional tetap berjalan dengan pengawasan ketat terhadap aspek keselamatan penerbangan. “Kami terus menjaga agar akses transportasi di Indonesia, khususnya di kawasan bencana dapat tetap berjalan dengan baik,” ungkapnya, Senin (17/8/2026).
Dudy Purwagandhi menambahkan, layanan navigasi penerbangan di beberapa unit pelayanan wilayah NTT juga terdampak gempa bumi. Unit di Labuan Bajo, Ende, Maumere, Bajawa, dan Ruteng melakukan penyesuaian operasional sesuai kondisi fasilitas masing-masing. Pada lokasi yang mengalami kerusakan pada gedung tower, pelayanan dialihkan sementara ke lokasi aman dengan dukungan rencana kontingensi.
Pelabuhan dan Jalan di NTT Terdampak Gempa Bumi
Dampak gempa juga dirasakan pada sektor transportasi laut yang menjadi jalur utama distribusi barang dan mobilitas masyarakat di wilayah kepulauan. Sejumlah pelabuhan mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda, mulai dari ringan hingga sedang, yang memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan keamanan operasional. Pelabuhan Laurentius Say dan Pelabuhan Reo dilaporkan mengalami dampak langsung gempa, sementara Pelabuhan Labuan Bajo, Marapokot, Ende, dan Waingapu juga mencatat kerusakan pada beberapa fasilitas.
Meski begitu, seluruh pelabuhan tersebut masih tetap melayani kapal dan penumpang dengan mengutamakan aspek keselamatan. Operasional pelabuhan secara umum tetap berjalan dengan dukungan posko siaga yang disiapkan untuk memantau kondisi lapangan. Layanan angkutan laut perintis juga masih beroperasi tanpa adanya permintaan perubahan rute hingga laporan terakhir diterima. Hal itu menunjukkan, jalur laut masih menjadi tulang punggung konektivitas di wilayah terdampak.
Pada sektor transportasi darat, gangguan sempat terjadi akibat longsoran yang memutus akses ke sejumlah wilayah. Namun setelah dilakukan penanganan, beberapa ruas jalan kembali dapat dilalui dan layanan keperintisan angkutan jalan mulai disiapkan untuk kembali beroperasi. Pemulihan akses darat itu menjadi krusial karena berfungsi menghubungkan titik pendistribusian bantuan dengan wilayah terdampak.
Di sisi lain, Kemenhub RI menyiapkan skema Get Airport Ready for Disaster (GARD) untuk memperkuat peran bandara dalam situasi bencana. Skema itu memungkinkan bandara dioptimalkan sebagai pusat operasi kemanusiaan ketika terjadi peningkatan kebutuhan mobilisasi. Menhub Dudy Purwagandhi menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk menjaga kelancaran distribusi bantuan.
“Transportasi memiliki peran penting dalam situasi seperti ini, karena bantuan tidak akan sampai kepada masyarakat tanpa adanya jalur yang aman untuk bergerak. Karena itu, Kemenhub terus berkoordinasi dengan BMKG, BNPB, Basarnas, TNI/Polri, pemerintah daerah, penyelenggara transportasi, dan operator untuk memastikan setiap keputusan operasional didasarkan pada kondisi terbaru di lapangan,” pungkasnya. (ADR)