Penderita Katarak di Indonesia Butuh Akses Layanan
Sementara itu, Abdulla Salem Al Dhaheri selaku Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia menilai operasi katarak mempunyai dampak yang melampaui aspek pemulihan penglihatan. Kemampuan melihat kembali dapat membuka kesempatan bagi penerima manfaat untuk belajar, bekerja, dan meningkatkan taraf hidup. “Kami ingin memberdayakan masyarakat yang membutuhkan agar memiliki kesempatan untuk hidup lebih mandiri,” tuturnya.
Program tersebut juga dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan Indonesia melalui pembelajaran langsung selama pelaksanaan operasi. Sekitar 10 hingga 12 dokter residen mendapat kesempatan belajar bersama dokter spesialis senior dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi itu sekaligus memperluas manfaat program dari penerima layanan kepada penguatan kompetensi tenaga kesehatan.
Chief Executive Officer (CEO) Noor Dubai Foundation, Manal Taryam, mengapresiasi dukungan Pemerintah RI dan Kedutaan Besar UEA terhadap pelaksanaan program kemanusiaan tersebut. Menurutnya, keberlanjutan kerja sama diperlukan agar cakupan layanan kesehatan mata dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. “Ini juga sangat penting bagi kami untuk membantu melayani sebanyak mungkin orang,” ujarnya.
Baca Juga
Kemenkes RI dan Noor Dubai Foundation telah merintis kemitraan sejak 2025 melalui dukungan dana hibah senilai 294.222 Dirham. Sebelumnya, program serupa telah memfasilitasi operasi katarak gratis bagi ratusan warga di Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Perluasan cakupan itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan layanan kesehatan mata bagi masyarakat di wilayah yang sulit menjangkau fasilitas medis.
Kerja sama Indonesia dan UEA di bidang kesehatan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan operasi di Banyumas Raya. Pemerintah dan mitra internasional dapat memperluas pendekatan serupa melalui penguatan layanan, peningkatan kapasitas tenaga medis, serta penjangkauan wilayah dengan kebutuhan tinggi. Dengan langkah tersebut, penanganan penderita katarak di Indonesia tidak hanya berorientasi pada tindakan medis, tetapi juga pemulihan produktivitas masyarakat.
Akses layanan yang lebih luas menjadi penting karena gangguan penglihatan dapat memengaruhi kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi. Program operasi gratis memberikan alternatif bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses maupun biaya pengobatan. Keberlanjutan kolaborasi diharapkan memperkuat penanganan penderita katarak di Indonesia secara lebih merata. (ADR)






























