AFU.id

Jejak Burhanuddin Abdullah Jinakkan Inflasi: 3 Kebijakan yang Mengubah Arah BI

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Jejak Burhanuddin Abdullah Jinakkan Inflasi: 3 Kebijakan yang Mengubah Arah BI
Mantan Gubernur BI, Burhanuddin Abdullah. (Foto: Ikopin University)

Ketika Kondisi Membaik, BI Mulai Melonggarkan Kebijakan

Pengetatan moneter tidak berlangsung tanpa akhir. Setelah inflasi mulai terkendali dan kondisi makroekonomi membaik, BI secara bertahap menurunkan BI Rate. Pada Februari 2007, BI memangkas suku bunga dari 9,50% menjadi 9,25%, disusul penurunan menjadi 8,75% pada Agustus 2007. Saat itu Burhanuddin menjelaskan bahwa ruang pelonggaran mulai terbuka seiring membaiknya inflasi, stabilitas nilai tukar, serta meningkatnya aktivitas investasi dan ekspor.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa kebijakan moneter bersifat dinamis. Ketika tekanan tinggi, bank sentral harus berani mengambil langkah pengetatan. Namun ketika kondisi mulai stabil, ruang pertumbuhan kembali dibuka melalui penurunan suku bunga.

Warisan Kebijakan yang Masih Relevan

Masa kepemimpinan Burhanuddin Abdullah bukan hanya diingat karena keberhasilannya menghadapi tekanan ekonomi 2005. Periode tersebut juga menjadi fase penting transformasi BI menuju bank sentral modern yang mengedepankan transparansi, kredibilitas kebijakan, dan penguatan sistem keuangan. Penerapan Inflation Targeting Framework, penggunaan BI Rate sebagai instrumen utama kebijakan moneter, serta penguatan industri perbankan menjadi fondasi yang hingga kini masih mewarnai arah kebijakan Bank Indonesia.

Ketika nilai tukar rupiah atau inflasi kembali menjadi perhatian publik, pengalaman Indonesia pada pertengahan dekade 2000 menunjukkan bahwa menjaga stabilitas ekonomi tidak cukup dilakukan dengan satu kebijakan. Dibutuhkan kombinasi antara pengendalian inflasi, kebijakan suku bunga yang terukur, sistem perbankan yang kuat, serta komunikasi yang mampu membangun kepercayaan masyarakat dan pelaku pasar. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi