Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Gempa Bumi NTT Rusak Fasilitas Kampus, Keselamatan Sivitas Jadi Prioritas
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah merusak beberapa fasilitas kampus, sehingga keselamatan sivitas akademika menjadi prioritas utama. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek RI) bersama perguruan tinggi dan pemerintah daerah melakukan pemantauan serta mendirikan posko bantuan bagi masyarakat terdampak. Dalam situasi darurat ini, Menteri Brian Yuliarto menekankan pentingnya penyesuaian aktivitas akademik, termasuk kemungkinan pembelajaran jarak jauh, sambil memastikan keselamatan mahasiswa dan tenaga pendidik.
Sejumlah perguruan tinggi di NTT mendirikan posko untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7. (Foto: Kemdiktisaintek RI)
JAKARTA, AFU.ID — Gempa bumi yang mengguncang Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berdampak pada sejumlah infrastruktur vital. Guncangan berkekuatan magnitudo 7,7 itu berdampak pada sejumlah fasilitas kampus, termasuk kerusakan ringan dan plafon ruang belajar. Oleh karenanya, keselamatan sivitas akademika menjadi persoalan utama sebelum aktivitas pendidikan kembali berlangsung normal.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) pun langsung melakukan pemantauan bersama perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV melaporkan sejumlah fasilitas kampus mengalami kerusakan per Minggu (16/8/2026). Di antaranya Sekolah Tinggi Pertanian Flores (STIPER) Bajawa yang rusak ringan dan kerusakan plafon ruang belajar di Politeknik ElBajo Commodus.
Kemdiktisaintek RI lantas memperluas koordinasi untuk memastikan kondisi para mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan fasilitas pendidikan. Kepala LLDIKTI Wilayah XV, Adrianus Amheka meminta seluruh pimpinan perguruan tinggi swasta segera mengonsolidasikan sivitas akademika. Langkah itu sekaligus untuk memastikan pemantauan situasi berlangsung aktif selama kondisi darurat.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas sebelum keberlanjutan pembelajaran dalam situasi tersebut. Ia menyampaikan, perguruan tinggi mempunyai tanggung jawab sosial karena menjadi bagian dari ekosistem masyarakat. “Yang pertama harus kita pastikan adalah keselamatan sivitas akademika, lalu proses pendidikan tetap dapat berjalan dengan penyesuaian yang diperlukan,” ungkapnya, Senin (17/8/2026).
Brian Yuliarto menambahkan, respons tak akan berhenti pada pengamanan sivitas akademika dan pemeriksaan fasilitas kampus. Per 17 Agustus 2026, sejumlah perguruan tinggi di NTT mendirikan posko untuk aktif membantu masyarakat yang terdampak bencana alam. Salah duanya Universitas Nusa Nipa dan Universitas Nusa Cendana, serta Universitas Mataram yang mengirim tim tanggap darurat berisi tenaga medis, psikolog klinis, dan personel pendukung bersama kebutuhan dasar.
Di sisi lain, Institut Teknologi Bandung Peduli NTT bersama Rumah Amal Salman telah tiba di Labuan Bajo. Tim mereka berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Ruteng. Bantuan kemudian diarahkan menuju wilayah Reok yang turut terdampak gempa bumi NTT.
Selain bantuan lapangan, kondisi mahasiswa yang menjalankan kegiatan akademik di wilayah terdampak turut menjadi perhatian. Sebanyak 61 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Manggarai Barat dan Manggarai Timur dilaporkan selamat. Mereka telah dievakuasi bersama warga menuju wilayah lebih aman, sementara kondisi peserta KKN Tematik GENTASKIN 2026 juga terus dipantau.
Gempa Bumi NTT Paksa Kampus Sesuaikan Aktivitas Akademik
Menteri Brian menyatakan, keberlanjutan pembelajaran menghadapi tantangan karena sebagian fasilitas belum tentu langsung memenuhi standar keamanan. Kementeriannya pun mendorong perguruan tinggi menempatkan keselamatan mahasiswa dan tenaga pendidik sebagai dasar keputusan pembelajaran tatap muka. Kampus dapat menunda aktivitas akademik apabila lokasi kegiatan belum dinyatakan aman.
Dalam praktiknya, perguruan tinggi dapat menerapkan pembelajaran jarak jauh ketika jaringan dan infrastruktur memungkinkan. Penyesuaian jadwal juga dapat dilakukan untuk perkuliahan, praktikum, ujian, tugas akhir, penelitian, dan kegiatan akademik lainnya. Kebijakan itu penting agar kondisi darurat tak berubah menjadi hambatan akademik berkepanjangan bagi mahasiswa. “Prioritas kami saat ini adalah memastikan seluruh sivitas akademika dan menjaga agar penanganan berlangsung cepat serta terkoordinasi,” tutur Brian Yuliarto.
Penanganan dampak gemba bumi yang mengguncang NTT tak cukup berhenti pada pendataan kerusakan bangunan dan evakuasi sivitas akademika. Perguruan tinggi perlu memastikan setiap keputusan akademik mengikuti tingkat risiko di lapangan, bukan sekadar mengejar normalisasi kegiatan. Ketika keselamatan dan kesinambungan pendidikan ditempatkan secara bersamaan, respons kampus dapat lebih terukur sekaligus melindungi mahasiswa dari dampak bencana lanjutan. (ADR)