JAKARTA - AFU.ID, Militer Amerika Serikat (AS) kini bebas mengakses wilayah udara Arab Saudi dan Kuwait setelah pembatasan diberlakukan. Pembukaan akses itu untuk mempermudah AS menjalankan operasinya di Selat Hormuz.
Setelah mendapatkan akses udara Saudi dan Kuwait, AS akan lebih leluasa melancarkan operasi militernya untuk mengamankan pelayaran komersial melalui jalur perairan.
Pencabutan pembatasan akses tersebut, seperti dilansir Middle East Monitor, Jumat (8/5/2026), dilaporkan oleh media terkemuka AS, Wall Street Journal (WSJ), pada Kamis (7/5) waktu setempat.
WSJ melaporkan bahwa pemerintahan Trump sedang bersiap untuk memulai kembali operasi pengawalan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dengan dukungan Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS.
Misi militer AS itu dihentikan sementara sejak awal pekan ini setelah beroperasi selama 36 jam.
Masih menurut laporan yang sama, Pentagon dan Departemen Pertahanan AS sedang merancang cara baru dalam upaya pengawalan kapal di Selat Hormuz.
“Beberapa pejabat AS mengindikasikan bahwa aktivitas dapat dimulai kembali paling cepat minggu ini,” dalam laporan itu, mengutip Detik.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, termasuk Saudi dan Kuwait.
Aktivitas pelayaran melintasi Selat Hormuz secara efektif ditutup oleh Iran imbas pertempuran tersebut. AS merespons dengan memberlakukan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di sekitar Selat Hormuz sejak pertengahan April lalu.
Terlepas dari itu, gencatan senjata yang diberlakukan sejak 8 April lalu dengan mediasi Pakistan berlangsung rapuh. Perundingan damai yang digelar di Islamabad menyusul gencatan senjata itu gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.
Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu yang ditetapkan.
Pada Selasa (5/5), Trump mengumumkan penghentian sementara misi "Project Freedom" untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Dia menegaskan blokade laut oleh AS tetap "berlaku sepenuhnya". (EER)