JAKARTA, AFU.ID — Pesisir tiga desa di Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tercemar tumpahan minyak. Minyak tersebut diduga berasal dari pengerjaan pengangkatan bangkai kapal oleh PT Nusalindo. Tiga desa yang terdampak adalah Desa Hansisi, Desa Huilelot, dan Desa Uiasa.
Camat Semau Morifali Y.E Mesakh melaporkan kejadian tersebut kepada Balai Pengelolaan Kelautan (BPK) Kupang. "Minyak juga dilaporkan terus bergerak menuju wilayah pesisir Desa Letbaun dan Desa Batuinan," kata Morifali dalam laporannya, Sabtu (1/8/2026).
Dalam laporannya tertanggal 31 Juli 2026, Morifali meminta BPK Kupang segera meninjau dan mengkaji dampak tumpahan minyak yang diduga merusak kawasan budidaya rumput laut milik masyarakat setempat. Kepala Balai Pengelola Kelautan Kupang, Imam Fauzi mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup NTT terkait penanganan pencemaran ini.
Imam menambahkan sebaran pencemaran secara pasti belum diketahui. Ia menyebut PT TOM turut menyampaikan kekhawatiran serupa sejak Jumat 31 Juli lalu karena berpotensi terkena dampak pencemaran tersebut. Berdasarkan laporan sementara PT Nusalindo, insiden bermula saat proses pengangkatan bangkai kapal pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 WITA.
Perusahaan langsung menghentikan sementara kegiatan pengangkatan dan melakukan penanganan darurat. Kegiatan pengangkatan yang dihentikan sementara berupa pemasangan oil boom, penggunaan bahan penyerap minyak, penyemprotan oil dispersant, serta pembersihan di lokasi kejadian.
Pemeriksaan bawah air yang dilakukan sehari setelahnya, 30 Juli 2026, menemukan kebocoran pada bagian bawah Cargo Hold Nomor 3 kapal tersebut, yang diduga menjadi sumber keluarnya minyak. Pada hari yang sama, PT Nusalindo bersama warga melakukan pembersihan di sekitar Dermaga Hansisi dan Pantai Kalnaok, dekat Pelabuhan Rakyat Laazar Port, Desa Hansisi.
Penyisiran dan pembersihan berlanjut keesokan harinya di sejumlah titik pantai Desa Huilelot dan Uiasa, hingga Sabtu. Selain mencemari kawasan pesisir, tumpahan minyak diduga turut berdampak pada usaha budidaya rumput laut warga di Desa Huilelot.
Area budidaya yang terdampak membentang di sepanjang pesisir Pantai Tahasa, Katabak, hingga Batuhopon, dengan panjang sekitar enam kilometer. Morifali mengatakan luas lahan budidaya yang rusak masih dalam proses pendataan. Ia menyebut pihak perusahaan belum memberikan tanggapan terkait penanganan kerugian yang dialami para pembudidaya rumput laut. (NAD)