JAKARTA AFU.ID — Ribuan ikan ditemukan mati di sejumlah saluran irigasi utama di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Warga menduga kematian massal tersebut dipicu pencemaran limbah pabrik yang dibuang ke aliran irigasi.
Menurut keterangan warga, ikan mati mulai terlihat sejak Senin malam dan jumlahnya terus meningkat hingga Selasa. Kondisi tersebut membuat saluran irigasi dipenuhi bangkai ikan yang mengambang.
"Sudah dari kemarin (Senin) banyak ikan mati mengambang di saluran irigasi dan hari ini terlihat semakin banyak ikan yang mati," katanya, Selasa (2/6/2026).
Ikan-ikan banyak yang mati terlihat di sejumlah titik saluran irigasi primer di Karawang, seperti di Tanggul Johar, Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, serta di sekitar saluran irigasi Perumahan CKM.
Di antara jenis ikan yang mati itu seperti ikan tawes, baung, dan jenis ikan air tawar lainnya. Bahkan ikan sapu-sapu juga banyak yang terlihat mati di saluran irigasi.
Ikan-ikan yang mati itu mengambang dan berkumpul di pinggiran saluran irigasi.
Atas kondisi itu masyarakat berinisiatif mengambil dan mengumpulkan ikan yang mati tersebut. Bahkan ada beberapa masyarakat yang justru membawa ikan mati ke rumahnya.
Belum diketahui secara pasti penyebab ikan mati secara massal itu. Namun, sejumlah warga menyebutkan kondisi tersebut terjadi akibat adanya pembuangan limbah cair ke saluran irigasi.
Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Peraturan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Karawang, Lucky Mantera Dwi Putra Romly, mengatakan pihaknya langsung turun ke lokasi setelah menerima laporan warga terkait kematian massal ikan di saluran irigasi wilayah Leuweung Seureuh.
Pengecekan dilakukan bersama Satgas Citarum Harum Sektor 10 untuk menelusuri kemungkinan penyebab kejadian tersebut. Petugas juga melakukan pemeriksaan kondisi air di lokasi tempat ikan ditemukan mati.
“Hasil pengecekan sementara menunjukkan nilai derajat keasaman (pH) air berada di angka 6, sehingga masih masuk dalam rentang baku mutu lingkungan yang dipersyaratkan, yakni antara 6 hingga 9,” kata Lucky, dilansir dari Kompas.com.
Meski demikian, DLH tetap mengambil sampel air untuk diuji di laboratorium. “Kecurigaan kami ada yang membuang limbah industri menggunakan tangki. Industri tidak boleh membuang limbah ke saluran TUB,” tutupnya. (ANT/RAI)