Penulis: Raihan Immaduddin
JAKARTA, AFU.ID — Tiga desa di Kabupaten Purbalingga mulai terjebak dalam krisis air bersih seiring masuknya musim kemarau 2026. Kondisi ini kembali membuka persoalan kerentanan pasokan air di wilayah lereng Gunung Slamet yang kerap berulang setiap tahun.
Kepala Pelaksana BPBD Purbalingga, Revon Haprindiat, mengatakan kekeringan dilaporkan terjadi di Desa Serang dan Desa Kutabawa di Kecamatan Karangreja, serta Desa Wanogara Wetan di Kecamatan Rembang. Dari tiga desa tersebut, baru dua wilayah yang mendapatkan distribusi bantuan air bersih. “Desa Wanogara Wetan masih menunggu karena penampungan belum siap,” kata Revon, Senin (22/6/2026).
Ia menjelaskan, krisis air bersih mulai dirasakan warga di Desa Serang dan Kutabawa yang berada di kawasan lereng Gunung Slamet dengan ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Kondisi geografis ini membuat akses air menjadi semakin terbatas saat musim kemarau datang.
Selain faktor cuaca, situasi ini juga dipicu dampak banjir dan longsor sebelumnya yang merusak dan menutup sebagian akses menuju sumber air bersih. Akibatnya, warga kini harus menempuh jarak sekitar 1–2 kilometer untuk mendapatkan air.
BPBD Purbalingga mencatat telah menyalurkan 20.000 liter air bersih pada 19 Juni 2026 untuk wilayah terdampak di Kecamatan Karangreja. Bantuan tersebut dibagi ke Desa Kutabawa dan Dusun Gunungmalang, Desa Serang masing-masing 10.000 liter.
“Sebanyak 20.000 liter air kami distribusikan untuk membantu sedikitnya 102 keluarga atau sekitar 398 jiwa,” ujar Revon.
BPBD menyatakan masih terus memantau perkembangan kekeringan di wilayah lain dan menyiapkan penyaluran bantuan lanjutan jika diperlukan. Pemerintah daerah juga diharapkan memperkuat mitigasi agar krisis air tidak terus berulang setiap musim kemarau. (ANT/RAI)