JAKARTA, AFU.ID - Lembaga pemikir independen Center of Economic and Law Studies (CELIOS) secara resmi mengirimkan surat kepada jajaran pimpinan asosiasi kampus elite Inggris, Russell Group of Universities. Langkah ini diambil guna merespons rencana Pemerintah Indonesia yang hendak mendirikan 10 perguruan tinggi baru berlabel "Universitas Republik Indonesia" bekerja sama dengan jaringan universitas asal Britania Raya tersebut.
Dalam surat yang ditandatangani oleh Direktur CELIOS, Media Wahyudi Askar dan ditujukan kepada Chief Executive Russel Group Profesor Libby Hacket itu, pihak CELIOS memaparkan, ambisi pemerintah membangun 10 kampus baru dari nol merupakan langkah yang keliru secara prioritas kebijakan maupun efisiensi anggaran (fiscal mismatch). "CELIOS mendukung kerja sama akademik Indonesia-Inggris, tetapi menilai rencana pemerintah Indonesia membangun 10 kampus baru bernama 'Universitas Republik' berkolaborasi dengan Russell Group sebagai prioritas kebijakan yang keliru," demikian papar Media Askar, dalam surat tersebut dikutip Jumat (24/7/2026).
CELIOS membeberkan sejumlah data statistik untuk memperkuat argumennya. Saat ini, ungkap CELIOS, Indonesia telah memiliki setidaknya 4.303 lembaga pendidikan tinggi untuk 285 juta populasi penduduk. Rasio tersebut mencapai 1 kampus per 66.000 jiwa—jauh lebih padat dibandingkan rasio di Inggris (1:418.000) maupun Australia (1:159.000).
"Masalah utama pendidikan tinggi di Indonesia bukanlah kurangnya jumlah bangunan kampus, melainkan minimnya investasi pada kualitas dosen, sarana laboratorium, dana riset, dan beasiswa," tulis Media Wahyudi Askar dalam suratnya.
Selain itu, CELIOS menyoroti kondisi kesejahteraan tenaga pendidik di tanah air yang dinilai masih memprihatinkan. Pemerintah tercatat masih memiliki kewajiban tunggakan tunjangan profesi bagi dosen PNS yang diperkirakan mencapai Rp5,7 triliun (sekitar US$315 juta), sementara mayoritas dosen masih harus mendanai penelitian mereka menggunakan uang pribadi.
Terkait klaim pemerintah bahwa pembangunan kampus baru diperlukan untuk mencetak lebih banyak tenaga medis, CELIOS menyarankan agar pemerintah cukup mengoptimalkan serta memperluas kapasitas Fakultas Kedokteran pada universitas-universitas yang sudah berdiri saat ini. Skema tersebut dinilai jauh lebih hemat biaya dibanding membangun infrastruktur fisik baru.
Melalui surat tersebut, CELIOS mendesak pimpinan Russell Group untuk meninjau ulang rencana keterlibatan mereka dan mendengarkan masukan independen dari para akademisi serta peneliti Indonesia. "Kami khawatir keterlibatan dalam proyek ini dapat menimbulkan risiko reputasi (reputational risk) bagi Russell Group, apabila diasosiasikan dengan kebijakan yang dikritik publik akibat mengabaikan keberadaan universitas lokal dan mengalihkan alokasi anggaran negara yang terbatas," tegas CELIOS dalam penutup suratnya.
Untuk diketahui, Russell Group adalah asosiasi elite yang menaungi 24 universitas riset terkemuka di Britania Raya (Inggris). Anggotanya mencakup kampus-kampus kelas dunia seperti University of Oxford, University of Cambridge, Imperial College London, London School of Economics (LSE), University of Manchester, University of Edinburgh, dan lainnya.
Rencana pemerintah Indonesia untuk mendirikan 10 kampus bertaraf internasional baru—yang diberi nama proyek "Universitas Republik Indonesia"—dirancang melalui skema kerja sama/kemitraan strategis dengan kampus-kampus anggota Russell Group asal Inggris tersebut. Kerja sama dengan kampus-kampus elite Inggris ini dilakukan guna mendongkrak kualitas pendidikan tinggi dan memproduksi banyak tenaga profesional.
MAR