Masuknya Islam ke Tanah Papua membentangkan sejarah panjang jaringan dakwah dan maritim Nusantara. Berdasarkan Kajian Ilmiah Sejarah Islam Papua yang disepakati oleh para akademisi, lembaga keagamaan, dan para raja dari berbagai kesultanan lokal di Papua Barat, tokoh pembawa ajaran Islam pertama di Tanah Papua adalah Syekh Abdul Ghaffar (atau Syech Abdul Ghoffar), seorang mubalig yang berasal dari Aceh.
Syekh Abdul Ghaffar pertama kali mendarat di wilayah Jazirah Onin, tepatnya di Gar, Kampung Rumbati, yang kini termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Dari Kampung Gar, ia mulai menyebarkan syiar Islam melalui pendekatan damai, perdagangan, serta interaksi sosial dengan penduduk lokal. Setelah menyebarkan dakwah selama bertahun-tahun di kawasan pesisir Fakfak, Syekh Abdul Ghaffar wafat dan dimakamkan di belakang Masjid Rumbati.
Penyebaran Islam di wilayah barat Papua kemudian terus berkembang berkat pengaruh kesultanan-kesultanan Islam di Maluku, seperti Kesultanan Tidore, Ternate, Bacan, dan Jailolo, serta terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam lokal di wilayah Fakfak dan Kaimana, seperti Kerajaan Rumbati, Fatagar, dan Atiati. Gambaran Demografi Pemeluk Islam di Papua
Perkembangan Islam di Papua terkonsentrasi di kawasan pesisir dan kepulauan barat, seperti Kabupaten Fakfak, Kaimana, Raja Ampat, Sorong Selatan, dan Teluk Bintuni. Secara keseluruhan demografi, data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat populasi pemeluk agama Islam di seluruh wilayah Tanah Papua berada pada kisaran 14,57 persen dari total penduduk.
Apabila ditinjau khusus dari demografi Orang Asli Papua (OAP), persentase pemeluk Islam membentuk kelompok minoritas indigenous sebesar kurang lebih 0,38 persen hingga 0,5 persen dari total populasi asli Papua, dengan konsentrasi tertinggi suku asli beragama Islam bermukim di wilayah adat Mbaham-Matta di Kabupaten Fakfak dan Kaimana, di mana Islam telah dianut secara turun-temurun oleh warga lokal selama bertahun-tahun. Peringatan 666 tahun ini menjadi penanda kuat bahwa keberadaan Islam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ikatan sejarah dan budaya masyarakat Papua. (MAR)































