JAKARTA, AFU.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang 2026 telah mencapai lebih dari 107 ribu hektare. Pemerintah menyebut fenomena El Nino kuat yang sedang berlangsung menjadi salah satu faktor yang mempercepat meluasnya kebakaran di sejumlah wilayah. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago mengatakan kondisi cuaca ekstrem tersebut diperkirakan berlangsung hingga awal September, bahkan berpotensi berlanjut sampai awal Oktober 2026.
"Merespons satu situasi atau cuaca yang sangat keras dihadapi oleh kita sekarang, yang biasa disebut dengan El Nino yang kuat, yang sudah berlaku dan mulai berlaku sekarang sampai dengan awal September, walau awal Oktober yang akan datang," kata Djamari dalam konferensi pers, Senin (10/8/2026).
Menurut Djamari, kondisi tersebut berpotensi mempercepat proses kebakaran hutan dan lahan yang saat ini terjadi di berbagai wilayah Indonesia. "Sampai dengan hari ini, wilayah kita di Indonesia ini yang terbakar hutan terhitung 107 ribu hektare lebih sampai dengan hari ini," ujarnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal, berlangsung lebih kering, serta lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dengan cakupan sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia, kemudian September sekitar 25,41 persen. Kondisi tersebut diperburuk oleh fenomena El Nino. Berdasarkan bahan yang disampaikan, El Nino diperkirakan bertahan hingga awal 2027 dengan peluang berada pada kategori moderat sebesar 98 persen dan kategori kuat sebesar 62 persen.
Berdasarkan catatan Kementerian Kehutanan, sebanyak 3.151 titik panas atau hotspot terdeteksi hingga awal Agustus 2026. Agustus menjadi bulan dengan jumlah titik panas tertinggi sejauh ini. Dalam 10 hari pertama Agustus saja, tercatat 1.300 titik panas. Jumlah tersebut disusul Juli dengan 758 titik dan Maret dengan 396 titik. Sementara Januari tercatat 110 titik, Februari 157 titik, April 145 titik, Mei 119 titik, dan Juni 166 titik. Tingginya jumlah titik panas pada Agustus menjadi perhatian karena bulan tersebut juga diperkirakan menjadi periode puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia.
Pemerintah mengklaim telah mengerahkan kekuatan besar untuk mencegah kebakaran semakin meluas. Penanganan dilakukan melalui operasi udara dan operasi darat. Djamari mengatakan Satgas Udara telah mengerahkan sekitar 43 helikopter untuk mendukung operasi penanggulangan karhutla. Pemerintah juga menyiapkan pesawat fixed wing sesuai kebutuhan di lapangan. "Sebagai catatan, dalam melaksanakan operasi udara yang dilakukan oleh Satgas Udara, kita mengerahkan sekitar 43 helikopter sampai dengan hari ini, ditambah dengan fixed wing yang juga bisa antara berisi 110 sampai dengan 15 sesuai dengan kebutuhan," kata Djamari.
Selain operasi udara, kekuatan personel dan peralatan di darat juga disiapkan dalam jumlah besar. Pemerintah berharap pengerahan personel, kendaraan, peralatan pemadaman, helikopter, dan pesawat dapat mencegah kebakaran yang sudah terjadi meluas menjadi bencana yang lebih besar. "Semoga ke depan kita masih bisa mempertahankan itu semua. Karena kesungguhan kita semua, kita sudah mengerahkan banyak sekali tenaga, alat-alat, peralatan untuk itu," kata Djamari. (EER)