Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Punya Posisi Strategis, IKM Logam Potensial Masuk Rantai Pasok Industri Nasional
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Industri Kecil dan Menengah (IKM) Logam di Indonesia berupaya untuk memasuki rantai pasok industri nasional, mengingat posisinya yang strategis dalam sektor manufaktur sebagai pemasok berbagai komponen untuk industri otomotif, kesehatan, dan konstruksi. Kementerian Perindustrian RI menggelar program kemitraan yang mempertemukan IKM logam dengan industri besar, bertujuan untuk meningkatkan kapasitas, kualitas, dan daya saing IKM serta memperluas akses pasar. Melalui kolaborasi ini, diharapkan IKM dapat berkontribusi lebih besar dalam penguatan struktur industri nasional dan menciptakan hubungan komersial yang berkelanjutan.
JAKARTA, AFU.ID — Industri Kecil dan Menengah (IKM) Logam perlahan naik kelas, dengan coba masuk dalam rantai pasok industri nasional. Pasalnya, industri logam mempunyai posisi strategis dalam struktur manufaktur nasional karena menjadi pemasok berbagai komponen dan produk penunjang berbagai sektor. Di antaranya adalah otomotif, alat berat, alat kesehatan, konstruksi, permesinan, dan lain-lain.
Melansir website Kementerian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI), Senin (10/8/2026), sejumlah IKM logam yang mempunyai potensi telah dipertemukan dengan industri skala besar. Tujuannya, menciptakan kemitraan bisnis secara berkelanjutan dan memacu keterlibatan industri logam yang mempunyai potensi dalam rantai pasok nasional. Selain itu, untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri dan menguatkan struktur industri manufaktur di tanah air.
Menteri Perindustrian (Menperin) RI, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyatakan IKM sangat berkontribusi dalam pembangunan industri nasional. Bahkan, telah terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian dan menyerap ribuan tenaga kerja di Indonesia. “Oleh karena itu, penguatan kemitraan dengan industri besar harus meluas agar pelaku IKM dapat meningkatkan kapasitas, kualitas, dan daya saing,” ungkapnya.
Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, IKM logam mempunyai potensi sangat besar untuk lebih berperan dalam rantai pasok industri nasional. Terlebih lagi ketika mampu terlibat langsung dalam program vendor development, maka kesempatan meningkatkan kapasitas produksi dan kompetensi akan semakin besar. “Dengan demikian, IKM tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga mendukung terwujudnya rantai pasok nasional yang semakin tangguh,” tuturnya.
Menperin Agus lantas menjelaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, dan pelaku industri untuk memperluas akses pasar bagi IKM. Ia berharap, keterlibatan dalam rantai pasok industri nasional dapat menjadi sarana peningkatan kualitas produk dan kapasitas produksi. Begitu pula dengan kompetensi sumber daya manusia (SDM) serta kemampuan memenuhi standar dan spesifikasi yang sesuai kebutuhan.
Jabar Punya 30 IKM Logam Potensial
Kemenperin RI pun telah menggelar program Fasilitasi Kemitraan IKM Logam dengan Industri Besar di Provinsi Jawa Barat (Jabar). Giat itu berlangsung di bawah komando Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) pada 29-30 Juli 2026 lalu. Asosiasi Pengusaha Engineering Karawang (APEK) turut digandeng untuk menyiapkan IKM potensial yang dipertemukan secara langsung dengan calon mitra industri besar.
Direktur Jenderal (Dirjen) IKMA Kemenperin RI, Reni Yanita, menilai Provinsi Jabar sebagai lokasi strategis dalam pelaksanaan program tersebut. Pasalnya, wilayah itu merupakan salah satu basis industri manufaktur terbesar di Indonesia dan mempunyai 30 IKM logam potensial. Keberadaan berbagai perusahaan manufaktur berskala nasional maupun internasional menciptakan kebutuhan rantai pasok yang beragam, mulai dari bahan baku serta komponen dan jasa pendukung industri.
Reni Yanita menjelaskan, IKM logam juga berpotensi membangun kemitraan dengan industri besar dari wilayah lainnya, terutama pada sektor alkes dan komponen permesinan. Harapannya, peluang itu dapat memperluas akses pasar sekaligus memacu diversifikasi produk IKM. Sehingga, tak hanya terbatas sebagai pemasok komponen dalam rantai pasok industri nasional.
“Pelaksanaan temu bisnis ini merupakan salah satu upaya mempertemukan IKM dengan industri besar dalam rangka membangun kemitraan yang saling menguatkan. Melalui dialog dan penjajakan peluang bisnis secara langsung, IKM dapat memahami bagaimana kebutuhan industri. Juga meningkatkan kesiapan usahanya dan membuka peluang untuk menjadi pemasok bagi industri besar,” ujar Reni Yanita.
Dirjen IKMA Kemenperin RI ini pun berharap, pertemuan tersebut tak sebatas kegiatan temu bisnis. Akan tetapi, ada tindak lanjut untuk menciptakan hubungan komersial yang lebih konkret dan berkelanjutan. “Dengan begitu, ekosistem industri nasional akan semakin kuat,” pungkasnya. (ADR)