AFU.id

Volume Grinding Naik 30,1 Persen, Industri Pengolahan Kakao Nasional Perkuat Posisi Global

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Industri pengolahan kakao nasional Indonesia mengalami peningkatan volume grinding sebesar 30,1% pada triwulan II 2026, mencapai 110.410 ton dari sebelumnya 84.844 ton, yang memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pilar utama dalam industri kakao regional dengan kontribusi sekitar 49% di Asia. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan pentingnya strategi hilirisasi yang terintegrasi dan pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan daya saing, kualitas, dan keberlanjutan, terutama di tengah tantangan pasar global yang semakin ketat. Dalam konteks ini, Indonesia International Cocoa Conference 2026 diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dan transformasi industri, menjadikan Indonesia sebagai produsen bernilai tambah tinggi dalam rantai pasok kakao global.

Volume Grinding Naik 30,1 Persen, Industri Pengolahan Kakao Nasional Perkuat Posisi Global
Indonesia International Cocoa Conference 2026 di Jakarta. (Foto: Kemenperin RI)

Industri Pengolahan Kakao Nasional Perkuat Hilirisasi dan Daya Saing Global

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal (Plt Dirjen) Industri Agro Kemenperin RI, Putu Juli Ardika menyebut Indonesia International Cocoa Conference 2026 menjadi momentum memperkuat kolaborasi sektor kakao. Forum itu mengarah untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat transformasi industri, dan memperluas akses pasar. Ia menilai, penguatan kolaborasi sangat penting untuk dapat membangun sistem produksi kakao yang inklusif dan berkelanjutan.

Melalui tema “The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World”, konferensi tersebut mempertegas ambisi Indonesia. Kini, industri pengolahan kakao nasional tak hanya sebagai pengolah bahan baku, melainkan produsen bernilai tambah tinggi. Arah itu menuntut konsistensi kebijakan agar peningkatan kapasitas industri berdampak langsung kepada petani dan perekonomian.

Industri pengolahan kakao nasional akhirnya mempunyai modal kuat melalui peningkatan volume grinding dan kontribusi besar di Asia. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan industri berjalan seiring dengan produktivitas petani, mutu produk, dan standar keberlanjutan. Jika tak diikuti dengan penguatan hulu, kenaikan kapasitas pengolahan berisiko tak sepenuhnya mengoptimalkan potensi kakao Indonesia. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi