JAKARTA, AFU.ID - Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di Sumatra Utara hingga meluas ke wilayah lain di Sumatra, seperti Aceh, mulai memicu dampak domino yang mengkhawatirkan. Tidak hanya memicu antrean kendaraan yang mengular di berbagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), krisis ini secara langsung melumpuhkan rantai logistik, memukul sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menghambat proyek konstruksi, serta mengancam stabilitas harga bahan pangan pokok.
Kondisi kelangkaan yang mulanya hanya terjadi pada BBM Jenis Solar bersubsidi kini kian memburuk setelah pasokan Pertalite juga turut habis di banyak SPBU. Akibatnya, masyarakat dan pelaku usaha terpaksa beralih ke Pertamax atau membelinya di tingkat pengecer dengan harga yang melambung tinggi. Di kawasan Aceh Tamiang misalnya, harga Pertalite eceran dilaporkan menembus angka Rp25.000 per liter, sementara SPBU di Kota Langsa tampak lengang akibat kehabisan stok Biosolar dan Pertalite sekaligus.
Di tengah jeritan masyarakat, terjadi perbedaan penjelasan antara Pemerintah Daerah dan PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) terkait pemicu utama kelangkaan ini. Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution menegaskan, pasokan BBM sebenarnya mencukupi, namun distribusi terputus akibat adanya aksi penghentian pengemudi mobil tangki secara massal.
"Yang saya sampaikan dari hasil koordinasi dengan pihak Pertamina itu bukan kelangkaan BBM-nya. Tapi pengemudi yang antar BBM-nya terjadi pemberhentian massal. Truk pengangkutnya tidak bisa beroperasi. Karena itu kami berkoordinasi dengan Pertamina, petugas TNI dan polisi untuk menjadi driver sementara," tegas Bobby, Selasa (15/7/2026).
Bobby juga mengkritik penanganan internal Pertamina yang dinilai lambat mengomunikasikan masalah ini sehingga memicu kemunculan panic buying di tengah masyarakat. Pemprov Sumut bahkan menyiagakan personel TNI-Polri guna mengambil alih kemudi truk tangki demi mempercepat pengiriman.
Di sisi lain, Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menjelaskan antrean panjang dipicu oleh melonjaknya konsumsi masyarakat secara signifikan seusai masa libur sekolah. "Dalam beberapa hari terakhir terdapat peningkatan kebutuhan BBM masyarakat, khususnya pascalibur sekolah yang cukup signifikan. Peningkatan konsumsi tersebut membutuhkan penyesuaian kapasitas angkutan dan ritase mobil tangki agar distribusi ke SPBU dapat kembali mengimbangi kebutuhan masyarakat," ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Lonjakan ini, kata Fahrougi, memerlukan penyesuaian kapasitas angkutan serta jadwal perjalanan (ritase) mobil tangki. Atas ketidaknyamanan tersebut, Pertamina meminta maaf dan menambah 20 unit mobil tangki, mengoperasikan Fuel Terminal Medan selama 24 jam, serta mendatangkan awak bantuan dari wilayah lain dan Pembekalan Angkutan (Bekang) TNI. "Atas kondisi tersebut, kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Sumatera Utara yang terdampak," ujar Fahrougi.
Pengamat Ekonomi Gunawan Benjamin memperingatkan, terhambatnya operasional armada pengangkut akibat antrean Solar yang berjam-jam memicu keterlambatan pasokan di pasar-pasar induk. "Risiko kendaraan datang terlambat bisa membuat ketersediaan pasokan saat proses lelang komoditas menjadi lebih sedikit, sehingga harga berpotensi naik. Waktu antrean yang lama menciptakan volatilitas harga di tingkat pedagang yang akan ditransmisikan langsung ke konsumen," terangnya.
Menurutnya, jika kondisi ini terjadi berlarut-larut, akan berpeluang memicu kenaikan harga-harga komoditas pangan. "Tentu ini berpeluang memicu kenaikan maupun volatilitas harga, yang pada akhirnya akan membuat konsumen maupun pedagang mengalami kerugian," ujarnya.
Terhambatnya pasokan BBM juga mengancam kelancaran usaha pelaku usaha mikro, kecil dan menegah (UMKM). Mereka pada akhirnya terpaksa harus membuang banyak waktu produktif hanya untuk berburu BBM. Founder Classprenuer Indonesia, Erri Manto Damanik, mengeluhkan distribusi barang yang menjadi sangat terlambat. "Waktu operasional banyak terbuang untuk mengantre. Kami harus berpindah-pindah SPBU mencari stok, ini menambah biaya operasional dan mengancam arus kas pelaku UMKM," ujarnya.
Kelangkaan BBM ini juga menimbulkan ancaman aiknya ongkos ekonomi di sektor konstruksi. Senior Konstruksi Indonesia, Erikson Lumbantobing mengatakan, tidak beroperasinya alat-alat berat dan truk pengangkut material seperti dump truck dan truk molen akibat krisis BBM mengancam target penyelesaian berbagai proyek. "Tiga hari saja kelangkaan terjadi, pasti mengganggu pencapaian target kerja dan memicu high cost economy," jelas mantan Ketua Umum Gapeksindo Sumut tersebut.
Krisis distribusi ini memicu desakan luas agar Pertamina bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera menuntaskan persoalan internal maupun teknis di lapangan. Pasalnya, jika pasokan energi tak kunjung pulih, daya beli masyarakat yang sudah tertekan diyakini akan kian tergerus.
Sekretaris Lembaga Advokasi Konsumen (LAPK), Muhammad Zein Azhary Wajdi Lubis mengatakan, fenomena kelangkaan BBM yang terus berulang, terjadi bukan semata karena masalah teknis. "Ini menjadi alarm bahwa tata kelola distribusi BBM masih memerlukan pembenahan yang serius," ujarnya, Selasa (15/7/2026).
LAPK mendesak Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut bersama pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola distribusi BBM di Sumatera Utara. “Apabila dalam waktu yang wajar tidak terdapat perbaikan yang nyata dan kelangkaan BBM masih terus berulang, maka pejabat yang bertanggung jawab patut dievaluasi secara menyeluruh," tegasnya.
Kejadian kelangkaan BBM di Sumatra ini memang masih terus terjadi terutama dalam sebulan belakangan ini. Tak hanya di Sumut, kelangkaan BBM juga terjadi di Aceh, Sumatra Selatan dan Sumatra Barat. Kelangkaan BBM khususnya Solar bersubsidi membuat antrean truk mengular hingga ke area jalan raya.
Peristiwa ini bahkan sampai menimbulkan korban jiwa. Seorang sopir truk berusia 50 tahun bernama Amri ditemukan meninggal dunia di dalam kendaraannya saat mengantre solar subsidi di SPBU Jalan Lintas Timur Palembang-Jambi, Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan, pada Jumat (10/7/2026) lalu. Korban diduga meninggal akibat kelelahan akut dan heat stroke setelah berjam-jam mengantre
Kelangkaan BBM, khususnya solar juga sempat terjadi di Jawa Timur, hingga nyaris melumpuhkan pengangkutan logistik. Kemudian di Jawa Barat dilaporkan sempat terjadi kekosongan stok Pertalite di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di daerah Cibinong, Kabupaten Bogor.
Di luar Jawa, kelangkaan BBM jenis Pertalite dan Solar juga sempat melanda Kabupaten Flores, Nusa Tenggara Timur. Hari ini, Selasa (15/7/2026) di Kalimantan Selatan, dilaporkan terjadi kelangkaan BBM terutama Biosolar dan Pertalite di Kota Banjarmasin, sehingga menimbulkan antrean panjang, khususnya truk pengangkut logistik.
MAR