JAKARTA, AFU.ID – Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei kembali muncul dalam sebuah video yang dirilis media Iran di tengah spekulasi mengenai kondisi kesehatannya. Kemunculan tersebut menjadi penting karena Mojtaba nyaris tidak pernah terlihat di depan publik sejak terpilih menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada Februari 2026. Video tersebut dirilis oleh kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News Agency. Dalam rekaman itu, Mojtaba terlihat duduk di sebuah ruangan bersama sejumlah orang dan berbicara dengan mereka. Ia tampak dalam kondisi yang relatif baik.
Namun, video tersebut tidak mencantumkan tanggal pengambilan gambar. Karena itu, rekaman tersebut belum dapat secara independen memastikan kapan Mojtaba benar-benar direkam. Kemunculan video itu terjadi ketika spekulasi mengenai keberadaan dan kondisi kesehatan Mojtaba disebut meningkat. Media Israel sebelumnya memberitakan bahwa kondisi pemimpin tertinggi Iran tersebut sangat kritis dan bahkan menyebut dia berada di ambang kematian. Laporan-laporan itu muncul setelah berbulan-bulan Mojtaba tidak terlihat secara terbuka.
Iran kemudian merespons spekulasi tersebut dengan menampilkan rekaman Mojtaba. Video itu menjadi semacam bukti visual dari pihak Iran untuk menunjukkan bahwa pemimpin tertingginya masih hidup. Kemunculan ini memiliki arti penting karena keberadaan Mojtaba selama berbulan-bulan menjadi salah satu misteri terbesar dalam pemerintahan Iran. Ia disebut mengalami luka serius dalam serangan 28 Februari yang menewaskan ayahnya. Setelah kemudian ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi pada Maret, Mojtaba hampir sepenuhnya menghilang dari ruang publik.
Absennya Mojtaba bahkan memunculkan pertanyaan mengenai apakah dia benar-benar menjalankan pemerintahan Iran atau hanya menjadi simbol formal, sementara pengambilan keputusan berada di tangan pejabat senior dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Spekulasi tersebut semakin kuat karena sebelumnya komunikasi publik yang dikaitkan dengan Mojtaba lebih banyak berupa pernyataan tertulis yang dibacakan melalui media pemerintah, bukan penampilan langsung dalam bentuk video atau pidato. Kondisi itu membuat keaslian dan waktu sejumlah materi yang diklaim memperlihatkan Mojtaba menjadi perhatian besar.
Dalam perkembangan terbaru, Presiden Iran Masoud Pezeshkian disebut bertemu langsung dengan Mojtaba pada akhir Juli. Menurut laporan media pemerintah Iran yang dikutip Reuters, pertemuan tersebut membahas sejumlah persoalan strategis, termasuk urusan militer, ekonomi, energi, dan hubungan ekonomi internasional. Namun, pertemuan itu juga tidak berlangsung secara terbuka di hadapan publik. Karena itu, video terbaru tersebut menjadi jauh lebih penting daripada sekadar kemunculan seorang pemimpin politik.
Rekaman itu merupakan upaya Iran untuk menunjukkan bahwa Mojtaba masih hidup dan tetap menjadi pemegang kekuasaan tertinggi negara tersebut, di tengah narasi dari pihak luar yang mempertanyakan kondisi kesehatannya dan kemampuannya memimpin. Namun, karena video tidak memiliki tanggal pengambilan gambar, rekaman itu belum sepenuhnya menjawab pertanyaan mengenai kondisi Mojtaba saat ini.
Video tersebut menunjukkan Mojtaba dalam keadaan hidup pada suatu waktu, tetapi tidak menjelaskan kapan gambar itu direkam. Dengan demikian, pertanyaan mengenai kondisi terkini pemimpin tertinggi Iran masih belum sepenuhnya terjawab. Terlebih lagi, sebelumnya seorang pejabat Basij mengatakan Iran akan merilis rekaman Mojtaba yang memperlihatkannya aktif bersama para pejabat militer untuk membantah rumor mengenai kondisinya dan meyakinkan publik bahwa ia tetap menjalankan perannya sebagai pemimpin Iran.
Kemunculan video terbaru ini pada akhirnya menjadi bagian dari perang informasi antara Iran dan pihak yang mempertanyakan keberadaan pemimpin tertingginya. Bagi Teheran, membuktikan bahwa Mojtaba masih hidup bukan hanya persoalan kesehatan seorang pemimpin, tetapi juga menyangkut kredibilitas pemerintahan Iran dan kepastian mengenai siapa yang sesungguhnya memegang kendali negara di tengah ketegangan dengan Israel dan Amerika Serikat. (EER)