JAKARTA, AFU.ID — Biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) 2027 diusulkan naik menjadi Rp107,3 juta per jemaah atau bertambah sekitar Rp19,9 juta dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp87,4 juta. Usulan tersebut disampaikan dalam rapat kerja Kementerian Haji dan Umrah bersama Komisi VIII DPR pada Selasa (7/7/2026). Perhitungan biaya disusun dengan asumsi nilai tukar Rp17.500 per dolar Amerika Serikat dan Rp4.666 per riyal Arab Saudi.
Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengatakan usulan tersebut mempertimbangkan efisiensi, peningkatan kualitas pelayanan, dan keberlanjutan penyelenggaraan ibadah haji. Ia menjelaskan, total BPIH sebesar Rp107,3 juta terdiri atas biaya penyelenggaraan di Arab Saudi sebesar Rp60,89 juta atau 56,73 persen dan biaya di dalam negeri sebesar Rp46,44 juta atau 43,27 persen. Komponen tersebut sudah mencakup biaya penerbangan rata-rata bagi setiap jemaah.
Menurut Irfan, kenaikan biaya dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan tarif penerbangan, biaya akomodasi di Makkah dan Madinah, transportasi darat, layanan Masyair, hingga pelayanan kesehatan. “Terdapat penyesuaian biaya konsumsi, distribusi akomodasi di Madinah, penguatan program manasik kesehatan, dan pembiayaan visa bagi jemaah batal ganti,” kata Irfan dalam rapat kerja bersama Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta.
Untuk menekan beban calon jemaah, Kementerian Haji mengusulkan skema pembiayaan dengan komposisi 60 persen berasal dari nilai manfaat Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) dan 40 persen ditanggung jemaah melalui Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih). Skema tersebut diharapkan membuat biaya yang dibayar jemaah tidak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang menilai usulan kenaikan BPIH masih masuk akal karena dipengaruhi kenaikan berbagai komponen biaya. Meski demikian, ia meminta pemerintah tetap bernegosiasi dengan Arab Saudi agar sejumlah komponen biaya dapat ditekan sehingga ongkos haji bagi jemaah masih berpeluang turun. (RAI)