Jakarta, AFU.ID - Jepang akan menaikkan biaya visa untuk warga negara asing untuk pertama kalinya dalam 48 tahun, ungkap laporan media lokal, Sabtu (20/6/2026). Perubahan itu menyusul keputusan Kabinet yang akan menaikkan biaya visa sekali masuk dari 3.000 yen (Rp331.000) menjadi 15.000 yen (Rp1,6 juta).
Biaya visa untuk beberapa kali masuk juga akan meningkat, dari 6.000 yen (Rp661.000) menjadi 30.000 yen (Rp3,3 juta), ungkap Jiji Press. Biaya yang direvisi akan berlaku untuk permohonan visa yang diajukan pada atau setelah 1 Juli.
Pihak berwenang Jepang mengatakan kenaikan itu dimaksudkan untuk mengatasi biaya administrasi dan operasional yang lebih tinggi akibat kenaikan harga.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi mengatakan kepada wartawan bahwa revisi itu diperlukan karena inflasi tetapi dia tidak mengharapkan hal itu akan berdampak langsung pada pariwisata masuk. Jepang terakhir kali menyesuaikan biaya visanya pada 1978.
Diberitakan sebelumnya, Wisatawan asing ke Jepang mengalami penurunan sebesar 5,5 persen pada bulan April dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year on year/yoy) menjadi 3,69 juta. Diwartakan Kyodo, Rabu (20/5) waktu setempat, penurunan yang disebabkan oleh penangguhan dan pengurangan penerbangan terkait konflik di Timur Tengah serta perselisihan diplomatik dengan China.
Menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang, penurunan ini menjadi yang pertama sejak Januari, meski secara bulanan menjadi capaian tertinggi pada 2026. Berdasarkan organisasi wisatawan, pengunjung dari Timur Tengah mengalami penurunan 21,4 persen menjadi 22.300, hal ini disebabkan karena perang AS-Israel dengan Iran yang mengganggu lalu lintas Udara di beberapa bandara dan penerbangan dari Eropa melalui Timur Tengah ke Jepang.
Tak hanya itu, wisatawan dari Tiongkok juga mengalami penurunan signifikan yakni menurun 56,8 persen atau menjadi 330.700 setelah adanya imbauan dari pemerintah untuk menghindari perjalanan ke Jepang.
Hal tersebut disebabkan karena Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi telah menyatakan adanya potensi keterlibatan Jepang dalam situasi darurat di Taiwan, hubungan bilateral dengan Negeri Tirai Bambu pun disebut memburuk dipicu pernyataan Takaichi.
Meski demikian, ada kabar baik, Korea Selatan menduduki puncak daftar dengan 878.600 pengunjung meningkat 21,7 persen, diikuti Taiwan dengan 643.500 atau meningkat 19,7 persen. Jumlah pengunjung dari sembilan pasar, termasuk Korea Selatan, Taiwan, Vietnam, dan Amerika Serikat, mencapai rekor tertinggi pada bulan April. (ANT/EER)