AFU.id

Ambisi Indonesia Bangun AI Factory 1 GW Terkendala Investasi Besar, Kesiapan Ekosistem Jadi Penentu

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Pembangunan infrastruktur Artificial Intelligence (AI) Factory berkapasitas 1 gigawatt (GW) di Indonesia memerlukan investasi besar dan kesiapan ekosistem yang matang, terutama terkait energi, talenta digital, dan konektivitas. Fasilitas ini, hasil kolaborasi antara Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA, diharapkan dapat memulai pembangunan pada paruh pertama 2027 di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dengan total investasi yang diperkirakan mencapai USD50 miliar. Selain sebagai pusat komputasi, AI Factory ini juga akan mendukung pengembangan model bahasa besar yang relevan dengan kebutuhan lokal, sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri di Indonesia.

Ambisi Indonesia Bangun AI Factory 1 GW Terkendala Investasi Besar, Kesiapan Ekosistem Jadi Penentu
Ilustrasi AI Factory. (Foto: Magnific)

AI Factory Uji Kesiapan Ekosistem di Indonesia

Zankore by Indosat yang menjadi nama AI Factory di Indonesia, sekaligus terbesar di Asia Tenggara, tak hanya menjadi fasilitas komputasi. Akan tetapi, juga menjadi tempat pengembangan dan hosting Sahabat-AI yang merupakan model bahasa besar (Large Language Model/LLM) open-source dengan 70 miliar parameter. Sehingga, dapat mendukung Bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Bali, dan Batak, serta memperluas peluang pemanfaatan AI yang lebih sesuai dengan kebutuhan.

Platform tersebut terancang untuk menyediakan Token-as-a-Service agar akses komputasi dapat menjangkau masyarakat, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), kementerian, lembaga, serta pengembang aplikasi. Kementerian Komdigi RI juga menyebut fasilitas manufaktur GPU pertama Indonesia sedang dalam tahap pembangunan di Cikarang dengan target peresmian pada Desember 2026. Rangkaian pembangunan itu berpotensi membentuk rantai pasok AI dari manufaktur perangkat hingga layanan komputasi.

Meski begitu, skala infrastruktur tetap harus berbarengan dengan permintaan nyata agar investasi tak berhenti sebagai penambahan kapasitas komputasi. Menteri Komdigi Meutya Hafid menyatakan keterhubungan infrastruktur, pasar, talenta, dan kebijakan menjadi fondasi pengembangan AI nasional dan juga di Asia Tenggara. “Pemerintah akan terus memastikan iklim investasi tetap kondusif agar inovasi AI dapat tumbuh sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya.

Dengan demikian, ambisi untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat AI regional kini menghadapi ukuran keberhasilan yang lebih konkret. Kapasitas 1 GW harus mampu menghasilkan aktivitas ekonomi, inovasi, dan layanan digital bernilai tambah agar investasi besar tersebut tak sekadar menjadi angka kapasitas. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi