Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Ambisi Indonesia Bangun AI Factory 1 GW Terkendala Investasi Besar, Kesiapan Ekosistem Jadi Penentu
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Pembangunan infrastruktur Artificial Intelligence (AI) Factory berkapasitas 1 gigawatt (GW) di Indonesia memerlukan investasi besar dan kesiapan ekosistem yang matang, terutama terkait energi, talenta digital, dan konektivitas. Fasilitas ini, hasil kolaborasi antara Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA, diharapkan dapat memulai pembangunan pada paruh pertama 2027 di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dengan total investasi yang diperkirakan mencapai USD50 miliar. Selain sebagai pusat komputasi, AI Factory ini juga akan mendukung pengembangan model bahasa besar yang relevan dengan kebutuhan lokal, sehingga diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan industri di Indonesia.
Ilustrasi AI Factory. (Foto: Magnific)
JAKARTA, AFU.ID — Infrastruktur Artifficial Intelligent (AI) Factory berkapasitas 1 gigawatt (GW) membuka peluang besar, sekaligus menguji kesiapan ekosistem kecerdasan buatan Indonesia. Pasalnya, kapasitas yang setara 1.000 megawatt (MW) itu jauh melampaui kebutuhan tahap awal yang mencapai 200 MW. Dengan skala tersebut, pembangunan infrastruktur komputasi AI membutuhkan modal besar serta dukungan energi dan jaringan yang benar-benar memadai.
Melansir website Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi RI), Minggu (9/8/2026), target pembangunan tahap awal mulai pada paruh pertama 2027 di Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Fasilitas itu merupakan kolaborasi bersama Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA untuk mengembangkan komputasi kecerdasan buatan berskala besar. Adapun pengembangan selanjutnya akan meningkatkan kapasitas fasilitas secara bertahap hingga mencapai target 1 GW dalam tiga tahun mendatang.
“Pemerintah menyambut baik komitmen empat perusahaan teknologi global untuk membangun AI Factory di Indonesia. Investasi ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan dunia terhadap masa depan ekonomi digital di Indonesia. Juga sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi teknologi yang bernilai tinggi,” ungkap Menteri Komdigi RI, Meutya Hafid.
Hanya saja, skala investasi menjadi persoalan penting karena kebutuhan modal AI Factory jauh lebih besar ketimbang pusat data konvensional. Sejumlah kajian internasional memperkirakan investasi mencapai sekitar USD50 juta untuk setiap 1 MW kapasitas komputasi kecerdasan buatan secara end-to-end. Jika proyeksi itu yang digunakan sebagai pembanding, maka kapasitas 1.000 MW berpotensi membutuhkan investasi sekitar USD50 miliar.
Oleh karenanya, komitmen pembangunan tak cukup hanya dari besarnya kapasitas komputasi yang diumumkan kepada publik. Keberhasilan proyek juga bergantung pada kemampuan mengubah kapasitas tersebut menjadi layanan AI yang produktif bagi industri dan masyarakat. Pemerintah RI perlu memastikan pembangunan infrastruktur berjalan seiring dengan kesiapan energi, talenta digital, konektivitas, dan kebutuhan pengguna.
AI Factory Uji Kesiapan Ekosistem di Indonesia
Zankore by Indosat yang menjadi nama AI Factory di Indonesia, sekaligus terbesar di Asia Tenggara, tak hanya menjadi fasilitas komputasi. Akan tetapi, juga menjadi tempat pengembangan dan hosting Sahabat-AI yang merupakan model bahasa besar (Large Language Model/LLM) open-source dengan 70 miliar parameter. Sehingga, dapat mendukung Bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Bali, dan Batak, serta memperluas peluang pemanfaatan AI yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
Platform tersebut terancang untuk menyediakan Token-as-a-Service agar akses komputasi dapat menjangkau masyarakat, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), kementerian, lembaga, serta pengembang aplikasi. Kementerian Komdigi RI juga menyebut fasilitas manufaktur GPU pertama Indonesia sedang dalam tahap pembangunan di Cikarang dengan target peresmian pada Desember 2026. Rangkaian pembangunan itu berpotensi membentuk rantai pasok AI dari manufaktur perangkat hingga layanan komputasi.
Meski begitu, skala infrastruktur tetap harus berbarengan dengan permintaan nyata agar investasi tak berhenti sebagai penambahan kapasitas komputasi. Menteri Komdigi Meutya Hafid menyatakan keterhubungan infrastruktur, pasar, talenta, dan kebijakan menjadi fondasi pengembangan AI nasional dan juga di Asia Tenggara. “Pemerintah akan terus memastikan iklim investasi tetap kondusif agar inovasi AI dapat tumbuh sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya.
Dengan demikian, ambisi untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat AI regional kini menghadapi ukuran keberhasilan yang lebih konkret. Kapasitas 1 GW harus mampu menghasilkan aktivitas ekonomi, inovasi, dan layanan digital bernilai tambah agar investasi besar tersebut tak sekadar menjadi angka kapasitas. (ADR)