AFU.id

Dapat Suntikan Rp539 Miliar dari Perusahaan Jepang, Indonesia Bangun Ekosistem Produk Obat Derivat Plasma

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Pemerintah Indonesia menjalin kerja sama dengan perusahaan Jepang, Takeda, untuk membangun ekosistem Produk Obat Derivat Plasma (PODP) dengan investasi sebesar Rp539 miliar, yang ditargetkan akan mulai beroperasi pada tahun 2027. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian dan akses terhadap terapi esensial, serta menciptakan lapangan pekerjaan baru di sektor kesehatan dan teknologi. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menekankan pentingnya kolaborasi ini dalam memperkuat sistem layanan kesehatan Indonesia dan menjadikan negara ini sebagai pusat inovasi kesehatan di Asia Tenggara.

Dapat Suntikan Rp539 Miliar dari Perusahaan Jepang, Indonesia Bangun Ekosistem Produk Obat Derivat Plasma
Kantor Kemenkes RI. (Foto: Kemenkes RI)

Urgensi Pembangunan Ekosistem Plasma di Indonesia

Menkes Budi menyampaikan, meningkatnya permintaan global terhadap PODP yang melatarbelakangi kerja sama dengan Takeda untuk membangun ekosistem plasma di Indonesia. Apalagi, Indonesia dan sebagai besar negara Asia Tenggara masih terkendala akses terapi akibat rendahnya angka diagnosis dan terbatasnya kesadaran masyarakat terhadap kondisi medis yang membutuhkan PODP.

Sementara itu, Ramy Riad selaku Presiden Plasma-Derived Therapies Takeda mengapresiasi perluasan kolaborasi strategis tersebut. Ia menegaskan, pihaknya berkomitmen memanfaatkan keahlian globalnya dalam sains plasma untuk mendukung tujuan layanan kesehatan jangka panjang Indonesia.

Ramy Riad lantas mengutarakan, pembangunan ekosistem PODP dapat membuka lapangan kerja baru dengan keterampilan tinggi. Terutama, bagi para tenaga kesehatan (nakes) dan teknisi laboratorium lokal di tanah air.

Sebagai informasi, kerja sama Pemerintah RI dengan Takeda tak hanya melibatkan Kemenkes. Ada pula Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian RI dan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanamanan Modal (Kemeninveshil/BKPM) RI.

Menteri Inveshil/Kepala BKPM RI, Rosan Roeslani menilai, kolaborasi tersebut merupakan investasi jangka panjang yang membawa peluang transfer teknologi. Termasuk pengembangan sumber daya manusia (SDM) nasional dan dan penciptaan lapangan pekerjaan.

“Kemitraan ini tidak hanya memperkuat ekosistem layanan kesehatan, tetapi juga mendukung ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat regional untuk inovasi kesehatan dan manufaktur obat berteknologi maju,” ujarnya. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi