JAKARTA, AFU.ID - Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai kepastian arah kebijakan pemerintah menjadi faktor penentu utama untuk mempercepat investasi energi surya di Indonesia. Keputusan investor dinilai tidak hanya bergantung pada besarnya potensi alam, melainkan juga pada kejelasan regulasi, kelayakan proyek (bankable), risiko yang terukur, serta tingkat pengembalian modal yang kompetitif.
Chief Executive Officer (CEO) IESR, Fabby Tumiwa, menjelaskan, kepastian kebijakan tersebut harus diwujudkan melalui target pengembangan yang konsisten, transparansi jadwal proyek, lokasi pembangunan, serta kapasitas tahunan yang jelas. “Investasi pembangkit energi surya perlu berjalan bersama dengan pembangunan transmisi, interkoneksi, digitalisasi jaringan dan sistem penyimpanan energi," ujar Fabby dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (18/7/2026).
Fabby menambahkan, efisiensi proses pengadaan, kejelasan kontrak, pembagian risiko yang adil, serta dukungan instrumen pembiayaan menarik seperti concessional loan dan blended finance menjadi instrumen penting untuk menarik minat para pengembang. Dalam ajang Indonesia Solar Summit (ISS) 2026, IESR turut memaparkan hasil kajian mengenai potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung (floating solar photovoltaic) di Indonesia yang dinilai layak secara finansial.
Potensi tersebut mencapai 77,8 GW di 179 lokasi, yang terdiri dari 42,5 GW di waduk atau danau, serta 35,3 GW di wilayah perairan dekat pantai. Menurut Fabby, potensi PLTS terapung ini dapat menyokong target besar pemerintah, termasuk program PLTS 100 GW untuk menyuplai listrik bersih di kawasan industri maupun menggantikan pembangkit fosil yang pensiun.
Untuk mengurangi hambatan investasi tersebut, IESR mendorong pemerintah melakukan penyederhanaan perizinan, integrasi lokasi potensial ke dalam tata ruang, serta penerapan mekanisme lelang terbalik (reverse auction) berbasis harga yang didukung oleh studi kelayakan awal. Skema ini dinilai mampu menciptakan tarif listrik yang lebih kompetitif sekaligus mempercepat realisasi proyek.
(ANT/MAR)