JAKARTA, AFU.ID — Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi terjadinya krisis pangan global akibat eskalasi geopolitik dan potensi gangguan rantai pasok dunia.
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia tersebut bahkan memeringatkan risiko tersebut kepada seluruh negara, tak terkecuali Indonesia.
Melansir website Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) pada Minggu (24/5/2026), Menteri Andi Amran Sulaiman lantas merespons prediksi FAO tersebut.
Andi Amran Sulaiman menyampaikan, Indonesia bertekad memperkokoh posisi sebagai negara dengan ketahanan pangan yang semakin baik.
Ia bahkan menegaskan, Indonesia siap mengambil peran besar untuk menjadi pemasok utama pangan dunia.
Menteri Pertanian (Mentan) Amran menyatakan bahwa Pemerintah RI telah mengantisipasi berbagai potensi gejolak global.
Di antaranya melalui penguatan produksi, peningkatan cadangan pangan, dan langkah strategis menjaga stabilitas pasokan nasional.
“Pertanian kita insyaallah tetap aman,” ungkap Mentan RI, Andi Amran Sulaiman.
“Pangan kita siap menghadapi berbagai kondisi terburuk, mulai dari El Nino, La Nina, hingga dinamika geopolitik global,” sambungnya.
Mentan Amran menjelaskan, kondisi pangan nasional menempati posisi yang relatif kuat karena produksi berada di atas kebutuhan konsumsi nasional.
“Produksi beras kita berkisar antara 2,6 sampai 5,7 juta ton per bulan, sementara kebutuhan nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan,” tuturnya.
“Artinya, produksi kita berada di atas konsumsi, jadi pangan aman dan masyarakat tidak perlu risau,” tambahnya.
Ia pun menyebut, pengalaman masa lalu menjadi pelajaran penting bahwa ketahanan pangan bukan hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi nasional.
“Kalau kebutuhan dalam negeri aman dan stok kuat, Indonesia harus berani mengambil peran lebih besar,” ujarnya.
“Kita tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi juga harus siap membantu negara sahabat yang membutuhkan,” pungkasnya.
Sebelumnya, pada 18 Mei 2025, Maximo Torero selaku Kepala Ekonom FAO mengingatkan bahwa potensi penutupan Selat Hormuz bukan sekadar gangguan sementara pada jalur perdagangan internasional.
Akan tetapi, dapat berkembang menjadi guncangan sistemik terhadap sektor pangan dan pertanian global.
Maximo Torero menilai, negara-negara perlu memperkuat kapasitas pangannya agar lebih tahan menghadapi berbagai hambatan global.
“Saatnya telah tiba untuk mulai berpikir serius tentang bagaimana meningkatkan kapasitas pangan negara-negara dan ketahanannya terhadap hambatan ini,” paparnya. (ADR)