JAKARTA, AFU.ID - Jumlah korban tewas akibat gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah menjadi 53 orang, naik enam korban dari pembaruan sebelumnya yang masih mencatat 47 kematian. Sebanyak 46 korban atau sekitar 87 persen dari total korban tewas berada di tiga kabupaten kawasan Manggarai Raya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat 135 warga mengalami luka ringan hingga berat dalam pembaruan penanganan gempa pada Minggu (16/8/2026).
Kabupaten Manggarai mencatat jumlah korban tewas terbanyak dengan 25 orang, disusul Manggarai Timur sebanyak 20 orang dan Manggarai Barat satu orang. Di luar kawasan tersebut, empat korban tewas tercatat di Kabupaten Sikka, dua di Ende dan satu di Nagekeo. Rincian ini menunjukkan dampak korban jiwa kini terkonsentrasi di wilayah Manggarai Raya meski pusat gempa berada di kawasan Laut Flores.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan angka korban berdasarkan data terbaru yang telah dihimpun dari sejumlah kabupaten terdampak. Pendataan masih berlangsung seiring proses pencarian, evakuasi, dan pelayanan terhadap masyarakat yang terdampak gempa. “Total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia,” kata Abdul dalam konferensi pers, Minggu (16/8/2026).
Jumlah terbaru ini melanjutkan kenaikan korban sejak pembaruan Sabtu malam ketika BNPB masih mencatat 47 orang meninggal dunia. Tim penyelamat pada Minggu terus menjangkau daerah yang sebelumnya terkendala longsor, kerusakan jalan, dan gangguan komunikasi, termasuk wilayah di Pulau Flores yang sempat sulit diakses. Lebih dari 3.500 personel TNI dan Polri juga telah dikerahkan untuk mendukung operasi pencarian dan penanganan warga terdampak.
Selain korban jiwa, ribuan warga masih berada di lokasi pengungsian karena rumah rusak maupun kekhawatiran terhadap gempa susulan. Laporan pada Minggu pagi mencatat sekitar 5.000 orang telah dievakuasi, dengan lebih dari 3.300 warga di Kabupaten Sikka mengungsi secara mandiri maupun menempati arena olahraga dan tempat penampungan sementara. Lebih dari 1.300 rumah juga dilaporkan mengalami kerusakan berdasarkan pendataan yang terus diperbarui.
Akses menuju sejumlah daerah terdampak sempat terganggu akibat longsor yang menutup jalan, termasuk jalur menuju beberapa kawasan di sekitar Maumere dan wilayah Flores lainnya. Kondisi tersebut membuat tim penyelamat harus membuka kembali akses untuk menjangkau masyarakat serta membawa bantuan ke daerah yang terisolasi. Gangguan listrik turut berdampak pada fasilitas masyarakat, termasuk sedikitnya 20 stasiun pengisian bahan bakar yang sempat tidak dapat beroperasi.
Aktivitas gempa susulan juga masih berlangsung setelah guncangan utama M7,7 pada Sabtu pagi. Hingga pembaruan Minggu, sedikitnya 341 gempa susulan tercatat setelah gempa utama, sementara masyarakat di sejumlah wilayah memilih tetap berada di luar bangunan karena khawatir terhadap guncangan berikutnya. Pemerintah Provinsi NTT juga mempertimbangkan penetapan status darurat untuk mempercepat mobilisasi sumber daya dan penanganan bencana.
Data korban masih dapat berubah karena pencarian dan verifikasi terus dilakukan di sejumlah kabupaten terdampak. BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan unsur SAR masih melanjutkan evakuasi, pelayanan kesehatan, serta distribusi logistik kepada masyarakat. Pembaruan 53 korban tewas ini menjadi perkembangan terbaru dari laporan sebelumnya yang masih mencatat 47 kematian pada Sabtu malam. (RHU)