JAKARTA, AFU.ID - Gempa Bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur, Sabtu (16/8/2026). Bencana alam jelang peringatan HUT ke-81 RI membuat ibu pertiwi berduka.
Ratusan bangunan pun hamcur akibat guncangan gempa yang sempat membuat kawasan itu terancam tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa gempa itu dipicu oleh sesar naik busur belakang Flores. "Ini adalah mekanisme gempa yang diakibatkan oleh sesar naik busur belakang Flores," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu.
Akibat sesar yang naik, terjadi pergeseran yang menyebabkan gempa bumi bermagnitudo 7,8 hingga 7,9. Gempa itu bahkan membuat sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan dan Bali turut terdampak.
"Gempa magnitudo 7,7 di belakang busur Flores ini ada potensi gempa dengan maksimum 7,8 - 7,9. Hari ini sudah rilis 7,7," kata Wijayanto.
Ia mengatakan bahwa pada tahun 1992 pernah terjadi gempa bermagnitudo 7,5 yang menyebabkan kerusakan parah saat itu. "Dari sejarah yang ada, di tahun 1992 dengan magnitudo 7,5. Ini juga luar biasa kerusakannya waktu itu."
Wijayanto juga mengatakan potensi gempa susulan juga masih terjadi. Untuk itu, BMKG akan memperbarui tiap informasi mengenai gempa NTT. "Jadi, ini sudah lebih dari 30 tahun, terjadi lagi. Nanti akan terus kita monitor aktivitas gempa susulannya," kata Wijayanto.
BMKG telah menyatakan peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 07.30 WIB.
Pihaknya akan terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan dan menyampaikan pemutakhiran informasi kepada masyarakat. "Kita sudah akhiri (peringatan dini tsunami), tapi tentunya kita akan terus memonitor aktivitas tinggi muka air laut yang akan tercatat di stasiun-stasiun kami," kata Wijayanto. (FAP)