JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 324 sekolah di tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat rusak akibat gempa Flores. Kerusakan tersebut masih dalam proses pendataan karena kondisi sekolah di setiap wilayah terdampak berbeda-beda. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga mulai menyiapkan ruang belajar sementara agar aktivitas pendidikan tetap dapat berjalan.
Kemendikdasmen telah mengirimkan bantuan awal untuk sekolah dan warga terdampak. Sebanyak 50 tenda disiapkan sebagai ruang kelas darurat, disertai 1.300 paket family kit dan 1.500 paket school kit pada pengiriman tahap pertama, serta dukungan psikososial dan konektivitas internet melalui Starlink. “Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” kata Mendikdasmen Abdul Mu'ti dalam keterangan tertulis, Selasa, (18/8/2026).
Kerusakan sekolah tersebar di tujuh kabupaten dengan Manggarai menjadi wilayah yang paling banyak terdampak. Data yang tercatat sebelumnya menunjukkan 104 sekolah rusak di Manggarai, disusul Manggarai Timur 52 sekolah, Nagekeo 44, Ende 39, Ngada 35, Sikka 27, dan Manggarai Barat 23 sekolah. Mendikdasmen menyebut tim lapangan terus bergerak untuk memastikan kebutuhan setiap satuan pendidikan dapat segera ditangani.
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah mempercepat pemulihan sekolah agar anak-anak tidak kehilangan hak memperoleh pendidikan selama masa tanggap bencana. Ia mendorong penyediaan ruang belajar sementara, percepatan anggaran perbaikan, serta dukungan bagi guru dan siswa yang terdampak. “Jangan sampai anak-anak menjadi korban kedua karena proses pemulihan pendidikan berjalan lambat,” ujar Lalu.
Selain sektor pendidikan, gempa juga menimbulkan kerusakan pada rumah warga serta sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur. Berdasarkan data BPBD NTT, sebanyak 7.968 rumah mengalami kerusakan ringan hingga berat dan 744 fasilitas umum dan infrastruktur terdampak. Data yang sama mencatat 69 orang meninggal dunia, 331 luka-luka, dan 34.689 warga mengungsi.
Pemerintah bersama pemerintah daerah masih melakukan pendataan sekaligus penanganan di sejumlah wilayah terdampak. Proses tersebut mencakup pemulihan fasilitas pendidikan, penyediaan kebutuhan pengungsi, serta perbaikan rumah dan infrastruktur yang rusak. Penanganan dilakukan bertahap sesuai kondisi di lapangan agar aktivitas masyarakat dan kegiatan belajar dapat kembali berjalan dengan aman. (RAI)