JAKARTA, AFU.ID – Ibu mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim, Atika Algadri, menyinggung pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo setelah anaknya divonis 10 tahun penjara dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook. Atika mengingatkan bahwa Nadiem menjabat sebagai menteri karena ditunjuk Jokowi.
Ia juga menyebut kebijakan yang dijalankan Nadiem saat memimpin Kemendikbudristek merupakan bagian dari program pemerintahan saat itu. Pernyataan itu disampaikan Atika seusai majelis hakim membacakan vonis terhadap Nadiem di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (30/6/2026). “Dia bikin pernyataan bahwa Nadiem orang baik dan semua program Nadiem itu adalah program saya,” ujar Atika kepada wartawan.
Menurut Atika, posisi seorang menteri tidak berdiri sendiri dalam menjalankan kebijakan. Ia menilai program yang dijalankan Nadiem selama menjabat tidak bisa dilepaskan dari arahan pemerintahan Jokowi. “Menteri itu pembantunya presiden, dia tidak bisa jalan-jalan sendiri,” katanya. Atika juga menyoroti posisi Nadiem yang tidak berasal dari partai politik.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat anaknya tidak memiliki basis dukungan politik saat menghadapi persoalan hukum. Ia menyebut Nadiem masuk ke pemerintahan karena dipilih Presiden, bukan karena memiliki kendaraan politik. “Dia menjadi menteri dipilih oleh Presiden, tapi dia sama sekali tidak punya basis politik apa-apa,” ujar Atika.
Atika menilai ketiadaan basis politik menjadi salah satu kelemahan Nadiem. Ia menyebut kondisi itu membuat anaknya rentan secara politik. “Jadi gampang diapa-apain,” ucapnya. Meski demikian, Atika mengatakan keluarga tetap akan memperjuangkan keadilan bagi Nadiem. Ia menyebut keluarga siap menerima jika Nadiem benar-benar terbukti bersalah, tetapi akan terus berjuang jika meyakini ada ketidakadilan.
“Kalau memang bersalah, ya sudah kita harus relakan. Tapi, kalau tidak bersalah, ya mesti kita perjuangkan sampai keadilan tercapai,” ungkapnya. Atika juga mengajak publik tidak putus asa terhadap kondisi penegakan hukum di Indonesia. Ia menyebut masih ada ruang bagi masyarakat untuk terus memperjuangkan keadilan. “Jangan putus asa,” kata Atika.
Menurut Atika, Indonesia tetap harus dijaga dan dibantu agar persoalan hukum dapat berjalan lebih adil. Ia menilai kasus yang menimpa Nadiem hanya satu bagian dari kondisi bangsa yang masih bisa diperbaiki. “Negara ini penting, bangsa ini harus dibantu,” ujarnya. Vonis 10 tahun terhadap Nadiem membuat keluarga menyatakan akan terus menempuh langkah hukum. Pernyataan Atika sekaligus membawa kembali sorotan pada hubungan antara program yang dijalankan menteri dan arah kebijakan presiden saat Nadiem memimpin Kemendikbudristek. (FAD)