JAKARTA, AFU.ID - Jumlah warga yang mengalami gejala dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, mencapai 527 orang. Jumlah tersebut merupakan akumulasi pasien yang mendapat penanganan sejak 4 hingga 6 Agustus 2026. Pasien terdiri dari balita, siswa PAUD, SD, SMP, hingga orang tua. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Berii Wopari, mengatakan seluruh pasien telah mendapat penanganan medis di sejumlah puskesmas dan rumah sakit.
“Dari data yang kita miliki sejak tanggal 4-6 Agustus hari ini sebanyak 527 orang. Ini terdiri dari balita, siswa PAUD, SD, SMP dan sejumlah orang tua,” kata Berii kepada wartawan di Sentani, Kamis (6/8/2026). Para pasien datang dengan sejumlah keluhan, seperti sakit perut, mual, muntah, diare, demam, dan badan lemas. Berii mengatakan jumlah tersebut mencakup pasien rawat jalan maupun rawat inap. Pasien yang masih menjalani perawatan terus dipantau oleh tenaga medis.
Kondisi sebagian besar pasien mulai menunjukkan perkembangan positif. Sejumlah pasien sudah dapat makan dan duduk, tetapi belum diperbolehkan pulang karena masih menjalani observasi. “Ada beberapa yang sudah mulai membaik, sudah makan dan duduk. Tapi masih tahap observasi karena kita ingin mereka benar-benar pulih saat dipulangkan,” ujar Berii. Dinkes Papua juga mencatat penambahan pasien baru mulai berkurang sejak Rabu (5/8/2026) malam.
Pemantauan di Puskesmas Depapre menunjukkan jumlah pasien yang datang mulai menurun. Pasien yang masih menjalani perawatan juga disebut menunjukkan perkembangan dalam proses pemulihan. “Sejak tadi malam pasien yang datang ke puskesmas sudah berkurang dan dari pemantauan kami di Puskesmas Depapre bahwa penambahan pasien baru sudah berkurang. Begitu juga yang sementara dirawat juga menunjukkan perkembangan yang baik dan proses recovery,” kata Berii.
Meski jumlah pasien baru menurun, Dinkes Papua tetap melakukan pemantauan terhadap seluruh pasien yang masih dalam masa pemulihan. Pasien diminta mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga medis dan memperbanyak minum air untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Berii mengatakan pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali gejala setelah pasien menjalani perawatan. “Pengawasan terhadap pasien terus dilakukan karena tidak menutup kemungkinan bahwa racun di dalam tubuh ini bisa muncul kembali, jadi pengawasan ini terus kita lakukan untuk mengantisipasi pasien kembali kambuh,” pungkasnya. (FAD)