JAKARTA, AFU.ID — Kasus keracunan yang dialami 19 siswa SDN Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya menemukan titik terang. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya bakteri Escherichia coli (E. coli) pada makanan dan air yang digunakan dalam proses pencucian serta pengolahan makanan.
Sekretaris Satgas MBG Kabupaten Blora sekaligus Kepala Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora, Edi Widayat, mengatakan hasil tersebut diperoleh dari pemeriksaan bakteriologis terhadap sampel air dan makanan. "Berdasarkan hasil laboratorium bakteriologis air dan makanan, keracunan makanan disebabkan oleh bakteri E.coli," kata Edi saat ditemui di Lapangan Kridosono Blora, Jawa Tengah, Selasa (11/8/2026).
Edi mengatakan bakteri tersebut ditemukan pada sejumlah komponen menu MBG yang dikonsumsi para siswa. Bakteri E. coli terdeteksi pada tumis kacang wortel putren dan telur bumbu kuning. Selain makanan, bakteri yang sama juga ditemukan pada air yang digunakan untuk mencuci dan mengolah makanan. "Bakteri tersebut terkandung di dalam makanan tumis kacang wortel putren dan telur bumbu kuning dan air yang digunakan untuk mencuci dan mengolah makanan," ujar Edi.
Temuan tersebut menjelaskan penyebab 19 siswa mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan yang dibagikan dari SPPG Bogowanti. Kasus tersebut terjadi pada Senin (20/7/2026). Dari total 141 siswa SDN Sendangrejo, sebanyak 19 siswa mengalami keluhan mulai dari mual, sakit perut hingga muntah. Para siswa kemudian dibawa ke Puskesmas Ngawen untuk mendapatkan penanganan medis.
Peristiwa bermula ketika makanan MBG tiba di sekolah sekitar pukul 06.30 WIB. Makanan kemudian dibagikan kepada siswa setelah upacara bendera sekitar pukul 08.00 WIB. Guru SDN Sendangrejo, Fatoni, mengatakan menu yang diterima siswa saat itu terdiri dari nasi putih, telur gulung, anggur, apel, kacang, dan susu kotak. "Yang dibawa ke Puskesmas itu ada 19 anak, gejalanya mual-mual, muntah juga ada, tidak ada yang pingsan," kata Fatoni.
Para siswa yang mengalami keluhan kemudian mendapat penanganan di Puskesmas Ngawen. Setelah menerima laporan keracunan, Dinkesda Blora langsung memeriksa dapur SPPG Bogowanti yang menjadi penyedia makanan MBG bagi para siswa. Pemeriksaan dilakukan terhadap proses penerimaan bahan makanan, penyimpanan, pengolahan hingga makanan siap dibagikan kepada penerima manfaat.
Subkor Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja dan Olahraga Dinkesda Blora, Titik Rahayu, mengatakan petugas juga mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. "Kita cek di gudang, terusan penerimaannya, alur penerimaan barang, terusan omprengnya bagaimana, kita baru cek. Dan penempatan bahan makanannya juga baru kita cek, kemudian sampel makanan baru dibawa ke laboratorium," kata Titik.
Sebelum hasil laboratorium keluar, sempat muncul dugaan susu menjadi sumber masalah. Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Blora, Artika Diannita, mengatakan pihaknya saat itu turut mengecek kondisi susu yang dibagikan kepada siswa. "Indikasi kemungkinan dari susunya. Kita sedang mengecek terkait dengan kondisi susu mulai dari tanggal expired. Itu tadi expired sekitar Januari 2027," kata Artika. (FAD)