AFU.id

Dugaan Keracunan MBG Kembali Terjadi, Puluhan Orang Tumbang Usai Santap Telur Puyuh Berbau

Bagikan:

Penulis: Fadhlan RobbaniReporter: Fadhlan Robbani

Ringkasan Berita

Dugaan keracunan makanan kembali terjadi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, setelah puluhan orang mengalami gejala seperti diare, mual, dan lemas usai mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), termasuk telur puyuh berbau. Makanan tersebut dibagikan kepada penerima manfaat di Desa Karangsono dan laporan kejadian diterima pemerintah daerah, yang segera melakukan penanganan darurat kepada korban. Saat ini, sampel makanan sedang diperiksa untuk menentukan penyebab gangguan kesehatan dan memastikan agar kejadian serupa tidak terulang.

Dugaan Keracunan MBG Kembali Terjadi, Puluhan Orang Tumbang Usai Santap Telur Puyuh Berbau
Ilustrasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (Antara)

Sampel Makanan Diperiksa

Ketua Satuan Tugas MBG Jember Achmad Imam Fauzi mengatakan, laporan kejadian tersebut diterima dari Camat Bangsalsari selaku Koordinator Kecamatan MBG. Laporan kemudian diteruskan kepada Bupati Jember Muhammad Fawait. Pemkab Jember selanjutnya mengerahkan perangkat daerah terkait untuk memberikan penanganan darurat. Para korban dirawat di Puskesmas Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari; Klinik Rowotamtu, Kecamatan Rambipuji; serta Puskesmas Paleran, Kecamatan Umbulsari.

“Bupati menginstruksikan agar penyelamatan korban menjadi prioritas utama. Seluruh korban harus mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik, dan seluruh biaya pengobatan ditanggung pemerintah,” kata Fauzi. Sejumlah korban dengan gejala ringan telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis awal. Sementara korban lainnya masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan.

Satgas MBG Jember juga telah turun ke lokasi untuk mengumpulkan keterangan serta mengamankan sampel makanan. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk memastikan sumber pencemaran dan penyebab gangguan kesehatan tersebut. “Kami ingin memastikan secara detail apa penyebab kejadian ini. Hasil investigasi nanti akan menjadi dasar evaluasi agar kasus serupa tidak kembali terjadi,” ujar Fauzi.

Hingga kini, belum dipastikan apakah gangguan kesehatan para korban berasal dari telur puyuh atau bahan makanan lainnya. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan evaluasi terhadap proses pengolahan makanan di SPPG 1 Karangsono. (FAD)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi