JAKARTA, AFU.ID - Penanganan medis terhadap para pelajar korban keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, terus berlanjut di RSU Haji Medan. Hingga Selasa malam (18/8), total tiga siswi resmi dirujuk ke rumah sakit rujukan provinsi tersebut akibat kondisi kesehatan yang terus memprihatinkan. Ketiga korban perempuan tersebut adalah Krismas Dayanti Sihite dari SMAN 1 Berastagi, serta F Purba dan Ana Karina Karo dari Yayasan Perguruan Bersama Berastagi.
Kondisi Krismas Dayanti Sihite menjadi perhatian utama setelah tim medis dan keluarga mengonfirmasi adanya keterlibatan gangguan saraf otak akibat paparan racun yang dialaminya. Orang tua korban, Sihite, menceritakan penderitaan anaknya yang sempat mengalami kekakuan fisik berat.
"Kata dokter, saraf otak anak saya bermasalah. Lehernya seperti terjepit, bahkan untuk minum saja lehernya harus ditarik terlebih dahulu agar air bisa masuk. Ia juga mengeluhkan rasa panas yang membakar dari perut hingga ke ulu hati," tutur Sihite.
Selain kesulitan menelan dan sering muntah, korban juga sempat mengalami gangguan kejang serta trauma psikologis. Gangguan tersebut kerap membuat Krismas sering menjerit histeris di tengah malam di ruang perawatan.
Sementara itu, dua korban tambahan yakni F Purba yang sebelumnya dirawat di RS Efarina dan Ana Karina Karo yang sempat dirawat di RS Amanda Berastagi, menyusul dirujuk ke RS Haji Medan pada Selasa sore karena tak kunjung membaik. Keduanya masih mengeluhkan sesak napas, mual berat, serta pusing berkepanjangan.
Kendati demikian, Kepala Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan RSU Haji Medan Fitrady Ulianda Siregar mengabarkan, Krismas yang berada di ruang PICU kini perlahan menunjukkan respons positif dan mulai dapat berkomunikasi meski masih didiagnosis mengalami sindrom iritasi usus besar akibat dampak racun.
"Alhamdulillah kondisi adek siswi tersebut sudah semakin membaik," kata Kabid Pelayanan Medik dan Keperawatan RSU Haji Medan Fitrady Ulianda Siregar, Rabu (19/8/2026).
Fitrady menjelaskan, meski masih dirawat di PICU, Krismas sudah mulai bisa duduk hingga berkomunikasi dengan baik. Korban sebelumnya disebut mengalami sindrom iritasi usus besar. Dengan gejala seperti sakit perut, kembung hingga perut begah.
"Sindrom iritasi usus besar, gangguan pencernaan kronis yang bikin perut tidak nyaman, bukan penyakit yang merusak usus. Gejala umum sakit perut/kram, kembung, diare atau sembelit bergantian, perut begah," jelas Ulianda.
Penyebab utama tragedi yang meracuni 255 hingga 265 siswa di Karo ini akhirnya terkuak setelah investigasi internal Badan Gizi Nasional (BGN). Kepala BGN Sudaryono mengonfirmasi adanya kelalaian fatal terkait pemutusan sistem rantai dingin (cold chain) dalam pengelolaan bahan baku makanan.
"Kami coba cek investigasi sementara. Jadi, itu kelalaian ada pada pengolahan. Bahan baku ikan itu sebagian besar dimasukkan ke freezer, tapi ada sekitar 200 sampai 300 ekor yang tidak masuk freezer. Itu kemudian ditaruh di suhu ruangan dalam kurun waktu 12 sampai lebih dari 12 jam," ungkap Sudaryono saat menjenguk para korban.
Dari sudut pandang medis dan literatur ilmiah, pembiaran ikan laut, khususnya jenis scromboid seperti tuna, tongkol, cakalang dan makarel, pada suhu ruangan selama lebih dari 12 jam memicu pembentukan racun berbahaya seperti histamine (scombroid poisoning). Dikutip dari laman Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Medan @disketapang_tankanmedan, dijelaskan, jenis ikan seperti tuna, cakalang, dan tongkol (TCT) kaya akan histidin alami.
Jika setelah ditangkap tidak segera didinginkan, bakteri dapat mengubah histidin menjadi histamin yang memicu gatal-gatal, kulit kemerahan, pusing, mual, dan jantung berdebar. "Masalahnya, histamin tidak hilang meski dimasak, digoreng, dibakar, atau dibekukan ulang. Jika sudah terbentuk, risikonya tetap ada," demikian dijelaskan akun tersebut.
Lebih jauh, jika penyimpanan tak dingin dan tidak hampa Udara, pembusukan ikan jenis scromboid juga bisa memicu tumbuhnya toksin bakteri Clostridium botulinum tipe E yang secara alami kerap ditemukan pada produk hasil laut. Bakteri Tipe E ini memiliki sifat unik karena mampu tumbuh dan membentuk toksin pada suhu rendah (bisa di bawah 5°C) dibandingkan tipe lain.
Dalam kondisi tertentu, bakteri ini bisa berkembang biak dan memproduksi racun (neurotoksin) dalam lingkungan tanpa oksigen atau minim oksigen. Dikutip dari laman halodoc, ancaman C. botulinum pada jenis ikan ini biasanya baru muncul jika ikan diolah menjadi produk olahan tertentu—seperti ikan asin, ikan fermentasi, atau produk kalengan—dengan proses pemanasan/sterilisasi yang tidak sempurna atau segel kemasan yang rusak.
"Ada beberapa kondisi umum yang menjadi gejala bakteri botulinum yang disebabkan oleh makanan seperti kesulitan menelan dan berbicara, mulut terasa kering, otot wajah melemah, gangguan penglihatan. Bahkan, kelopak mata terasa berat dan maunya terkulai, kesulitan bernapas, mual, muntah, serta perut terasa kram dan kelumpuhan," demikian dikutp dari laman tersebut.
Menanggapi besarnya dampak insiden ini, Kepala BGN menegaskan seluruh biaya pengobatan para siswa ditanggung penuh oleh skema jaminan kesehatan Universal Health Coverage (UHC) Pemprov Sumut. BGN, kata Sudaryono juga siap mengambil alih penanganan jika ada kebutuhan medis tambahan di luar cakupan jaminan daerah. (MAR)