JAKARTA, AFU.ID — Belasan siswa SDN Kauman 1 Kota Malang mengalami sakit perut, mual, muntah, diare, dan demam setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis. Sejumlah siswa dilaporkan harus mendapatkan pemeriksaan medis, bahkan ada yang sempat dirawat di rumah sakit. Wali murid kini memilih menghentikan sementara konsumsi MBG sampai hasil pemeriksaan laboratorium memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.
Keluhan terhadap makanan disebut telah muncul sejak siswa menerima menu telur yang rasa dan aromanya dinilai tidak biasa. Keesokan harinya, sejumlah anak kembali enggan menghabiskan menu ikan karena berbau amis. Pada malam setelah menu tersebut dibagikan, beberapa siswa mulai mengalami sakit perut, mual, dan muntah sebelum kondisinya memburuk.
Salah seorang wali murid mengatakan anaknya mengalami demam tinggi, muntah, dan diare hingga harus dibawa ke dokter. Pemeriksaan sementara menyebut anak tersebut mengalami muntaber yang diduga dipicu makanan yang dikonsumsi. “Di kelas anak saya ada sekitar 12 anak. Adik kelasnya juga ada, kelas 4 separuh. Jadi memang belasan anak,” kata wali murid yang identitasnya disamarkan (25/07/26).
Para orang tua mengaku khawatir memberikan kembali makanan dari program tersebut sebelum ada kepastian medis. Mereka juga menyoroti kebijakan yang meminta siswa menghabiskan menu MBG sehingga sebagian orang tua tidak lagi membekali anak dengan makanan dari rumah. Penolakan sementara dilakukan sebagai langkah kehati-hatian, bukan kesimpulan bahwa menu MBG telah terbukti menjadi penyebab sakit.
Pihak sekolah telah mengirimkan surat kepada Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang untuk meminta pemeriksaan terhadap sampel makanan. Dinas Kesehatan kemudian mengambil sampel menu MBG dan membawanya untuk diuji di laboratorium. Hasil pemeriksaan dijadwalkan keluar pada Senin dan akan digunakan untuk memastikan apakah gangguan kesehatan para siswa berkaitan dengan makanan tersebut.
DPRD Kota Malang turut meminta evaluasi menyeluruh terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang memasok makanan kepada sekolah. Pengawasan diminta mencakup pemilihan bahan baku, penyimpanan, proses memasak, pengemasan, hingga distribusi kepada siswa. Hingga hasil laboratorium diterbitkan, belum ada kesimpulan resmi bahwa belasan siswa tersebut mengalami keracunan akibat menu MBG. (RHU)