Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Keracunan Massal Siswa Malang akibat Bakteri E. coli di Menu MBG, Ini Gejala dan Cara Mencegahnya
Bagikan:
Penulis: Raihan Immaduddin
Ringkasan Berita
Bakteri Escherichia coli (E. coli) kembali menjadi sorotan setelah terdeteksi pada kasus keracunan massal di Kota Malang, di mana 33 siswa mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan terkontaminasi. Selain itu, pengujian terhadap depot air minum di beberapa daerah menunjukkan tingkat kontaminasi yang tinggi. Meskipun sebagian besar jenis E. coli tidak berbahaya, strain tertentu seperti E. coli O157:H7 dapat menyebabkan infeksi serius dengan gejala seperti diare berdarah dan kram perut. Penularan terjadi melalui makanan atau air yang terkontaminasi, sehingga menjaga kebersihan makanan dan minuman adalah langkah penting untuk mencegah infeksi.
Bakteri Escherichia coli (E. coli). (Dok. Istimewa)
JAKARTA, AFU.ID — Bakteri Escherichia coli (E. coli) kembali menjadi perhatian setelah ditemukan pada sejumlah kasus yang berkaitan dengan keamanan pangan. Di Kota Malang, hasil uji laboratorium menemukan bakteri tersebut pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikonsumsi 33 siswa SDN Kauman 1 hingga menyebabkan keracunan massal. Sementara itu, pengujian terhadap depot air minum isi ulang (DAMIU) sepanjang 2025 juga mendeteksi kontaminasi E. coli di 84 persen depot di Bandung, 73 persen di Sumedang, dan 78 persen di Jakarta Selatan.
Apa Itu Bakteri E. coli dan Bagaimana Penularannya?
Escherichia coli merupakan bakteri yang secara alami hidup di saluran pencernaan manusia maupun hewan. Sebagian besar jenisnya tidak berbahaya dan bahkan membantu proses pencernaan, tetapi beberapa strain tertentu dapat memicu infeksi serius pada saluran cerna. Salah satu yang paling berbahaya ialah E. coli O157:H7 yang termasuk kelompok Shiga toxin-producing Escherichia coli (STEC) karena menghasilkan racun Shiga yang dapat menyebabkan komplikasi berat.
Penularan bakteri E. coli umumnya terjadi melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Sumber penularannya antara lain daging yang tidak dimasak hingga matang, susu yang tidak dipasteurisasi, sayuran mentah yang tercemar, dan air yang terpapar limbah manusia atau hewan. Selain itu, bakteri ini juga dapat menyebar melalui kontak langsung dengan penderita maupun hewan yang terinfeksi apabila kebersihan tangan tidak dijaga.
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi maupun komplikasi akibat E. coli. Mereka meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Risiko juga meningkat pada orang yang mengonsumsi obat penurun asam lambung karena kemampuan tubuh membunuh bakteri menjadi berkurang.
Gejala infeksi biasanya muncul tiga hingga empat hari setelah bakteri masuk ke dalam tubuh, meski pada beberapa kasus dapat timbul lebih cepat atau lebih lambat. Keluhan yang paling sering dirasakan meliputi kram perut, diare berair yang dapat berubah menjadi berdarah, mual, muntah, demam, perut kembung, hingga tubuh terasa lemas. Sebagian besar penderita akan membaik dalam waktu lima sampai tujuh hari dengan penanganan yang tepat.
Pada kondisi yang lebih berat, infeksi E. coli dapat menyebabkan komplikasi serius seperti dehidrasi, berkurangnya produksi urine, urine berdarah, kulit pucat, hingga mudah memar. Gejala tersebut memerlukan penanganan medis segera karena dapat berkembang menjadi gangguan yang mengancam jiwa, terutama pada kelompok rentan. Seseorang juga disarankan segera memeriksakan diri apabila diare tidak kunjung membaik, disertai demam tinggi, darah pada tinja, atau muntah berkepanjangan.
Menjaga kebersihan makanan dan minuman menjadi langkah utama untuk mencegah infeksi bakteri E. coli. Daging sebaiknya dimasak hingga matang sempurna, susu yang dikonsumsi harus telah dipasteurisasi, sayuran dicuci dengan air bersih, dan kebiasaan mencuci tangan perlu dilakukan sebelum makan maupun setelah beraktivitas. Upaya tersebut dinilai penting untuk menekan risiko penularan, terlebih setelah sejumlah temuan terbaru menunjukkan bakteri E. coli masih menjadi ancaman bagi keamanan pangan di Indonesia. (RAI)