JAKARTA, AFU.ID – Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, akan melakukan laporan kepada Prabowo Subianto terkait temuannya soal potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan buruh di sejumlah perusahaan, mulai dari Mojokerto, Jawa Timur, hingga Bandung, Jawa Barat. Laporan ini disampaikan setelah Said melakukan kunjungan kerja bersama Kementerian Ketenagakerjaan dan perwakilan serikat pekerja ke Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jakarta.
Said memastikan akan menyampaikan seluruh temuan tersebut langsung kepada Prabowo dengan tembusan kepada Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi dan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. Ia mengatakan laporan tersebut sebagai upaya mencari solusi kebijakan atas ancaman PHK massal ini. “Tentu nanti saya akan melaporkan pada Presiden, cc-nya Mensesneg dan pimpinan DPR,” kata Said dalam konferensi pers secara daring, Minggu (21/6/2026).
Adapun perusahaan pertama yang ditemui Said di Jawa Timur adalah PT Pakerin yang merupakan produsen bubur kayu di Mojokerto. Diketahui perusahaan tersebut memiliki potensi PHK mencapai 2.500 karyawan. Said menyebut, saat ini hanya tersisa seperlima kapasitas pabrik yang masih beroperasi, sehingga sekitar 80 persen aktivitas produksi terhenti. Kondisi ini katanya, ikut menekan perekonomian di sekitar perusahaan, termasuk pasar tradisional yang selama ini bergantung pada belanja para buruh PT Pakerin.
Kemudian, masih di kawasan Jawa Timur, Said juga menemukan dua perusahaan komponen otomotif yakni di kawasan Pasuruan dan Mojokerto yang menghadapi ancaman serupa. Kedua perusahaan tersebut dilaporkan berencana memindahkan sebagian pabriknya ke Vietnam. Hal tersebut diketahui karena perusahaan induknya di Jepang memutuskan beralih fokus ke produksi mobil listrik di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, akibat konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran di Asia Barat.
Said menyebut, ribuan buruh di kedua perusahaan ini berpotensi terdampak PHK jika rencana relokasi tersebut benar-benar terjadi. Untuk mengantisipasi hal itu, ia meminta Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) lebih dulu bernegosiasi dengan manajemen perusahaan agar prinsipal di Jepang membatalkan rencana pemindahan produksi.
Beralih ke Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Said menemukan ancaman PHK terhadap sekitar 4.000 buruh di PT Feng Tay Indonesia Enterprises, perusahaan pemasok sepatu olahraga untuk merek Nike. Dari total sekitar 14.000 karyawan yang dipekerjakan perusahaan tersebut, 4.000 orang di antaranya sudah dirumahkan akibat selesainya proses produksi sepatu Nike, sementara perusahaan masih menunggu pesanan produksi berikutnya yang belum ada kepastian.
Said menambahkan, selain terhentinya pesanan, perusahaan juga menghadapi kendala keterlambatan bahan baku yang sebelumnya dikirim langsung oleh pihak Nike. Akibat situasi perang dan ketegangan geopolitik global, sistem pengadaan bahan baku kini dialihkan ke vendor lain, sehingga turut mengganggu rantai pasok produksi perusahaan.
Lebih lanjut, katanya, khusus untuk kasus PT Feng Tay, ia berencana mengusulkan sejumlah opsi solusi kepada pemerintah, salah satunya potensi relaksasi pajak bagi perusahaan tersebut agar beban biaya produksi bisa lebih ringan, sehingga ribuan karyawan yang dirumahkan dapat kembali bekerja. (NAD)