AFU.ID - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melontarkan peringatan keras kepada jajaran menterinya agar tidak main-main dalam bekerja dan berhenti memberikan laporan dengan mentalitas "Asal Bapak Senang" (ABS). Peringatan ini diduga dipicu oleh temuan Kepala Negara terkait adanya manipulasi data statistik nasional yang tidak mencerminkan realitas di masyarakat.
Pengamat politik Rocky Gerung menilai, kemarahan Presiden menunjukkan bahwa ia telah menerima informasi alternatif yang lebih akurat. Menurut Rocky, selama ini terdapat sejumlah data pemerintah yang diduga dipoles oleh para menteri, mulai dari angka pertumbuhan ekonomi, jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), hingga besaran aliran modal ke luar negeri (capital outflow).
"Presiden Prabowo pasti marah karena dia dapat info alternatif bahwa selama ini beberapa menteri membohonginya. Masyarakat sudah teriak bahwa angka pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 hingga 6 persen itu bohong," ujar Rocky dalam kanal YouTube pribadinya, dikutip Jumat 13 Maret 2026.
Rocky memaparkan adanya ketimpangan mencolok antara data makro pemerintah dan kondisi mikro di lapangan. Ia mencontohkan data PHK dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat angka 100.000 pekerja. Padahal, jika merujuk pada realita dunia usaha melalui Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), jumlah riilnya diperkirakan bisa menyentuh angka 300.000 pekerja.
Ketidakakuratan data ini juga terlihat pada sektor investasi. Berdasarkan statistik resmi, angka capital outflow tercatat sekitar Rp30 triliun. Namun, melihat kecemasan pasar terhadap stabilitas politik dan ekonomi nasional, Rocky memprediksi angka sebenarnya bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat atau sekitar Rp100 triliun.
Lebih lanjut, Rocky menyoroti adanya dilema di internal kabinet. Para menteri dan pembantu presiden dinilai enggan menyampaikan data yang buruk karena berkaitan langsung dengan rapor kinerja mereka. Akibatnya, mereka memalsukan data demi menyenangkan Presiden.
Di sisi lain, narasi yang dibangun oleh menteri sering kali bertentangan dengan analisis kritis para ekonom. Rocky mencontohkan bagaimana kritik berbasis riset dari ekonom seperti Ferry Latuhihin terkait kelemahan makroekonomi justru kerap dianggap sebagai narasi nyinyir atau pembuat hoaks oleh pihak kementerian.
"Padahal, Presiden ingin supaya diberi data yang sempurna dan jujur, walaupun itu menyakitkan, agar ia tahu apa yang sedang berlangsung. Data adalah urat nadi dari perencanaan negara," tegas Rocky. (*)