Jakarta, AFU.ID - Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melantik Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Ketua Partai Buruh, sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Senin (8/6/2026).
Pelantikan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintahan Prabowo berupaya merangkul elemen buruh ke dalam lingkaran kekuasaan. Tujuannya belum bisa ditebak, tetapi upaya merangkul banyak kalangan oleh kabinet ini rasanya sudah terjadi sejak lama.
Sebelumnya, pada May Day 1 Mei lalu, aksi buruh terpecah menjadi dua. Ada yang berunjuk rasa di depan Senayan, ada yang berada di Monas, di depan Istana. Di tempat kedua, Prabowo hadir, memberi sinyal keakraban dengan Said Iqbal.
Di balik sinyal keakraban, ada sejumlah PR kaum buruh yang belum tuntas. Mulai dari soal upah murah, ancaman PHK massal, hingga isu kesejahteraan di tengah krisis ekonomi yang melanda belakangan ini.
Masalah outsourcing dan upah murah, misalnya. Ini persoalan yang hingga kini belum tuntas. Praktik sistem kontrak berantai masih marak dipakai. Sistem ini merugikan buruh karena status buruh semakin tidak jelas.
Kesejahteraan dan perlindungan sosial juga belum tuntas. Isu yang paling kuat saat ini menyangkut nasib pekerja ojol dan ekonomi kreatif. Dua sektor ini paling rentan menjadi korban karena tidak terikat kontrak yang jelas.
Persoalan ini semakin rumit ketika kondisi ekonomi Indonesia sedang tidak normal, sejak terjadi gejolak di Timur Tengah akibat perang yang tidak berkesudahan antara Amerika Serikat dan koalisinya melawan Iran. Imbasnya, harga minyak naik tajam.
Potensi PHK di tengah ekonomi yang tidak baik-baik saja ini merupakan ancaman serius. Keberadaan Said Iqbal di kabinet, barangkali bisa menjadi bumper politik, mengingat dirinya adalah salah satu tokoh buruh yang paling didengar saat ini.
Jika dirinya ingin menuntaskan sejumlah PR buruh itu, tugas Iqbal tentu menjadi tidak mudah. Dia berkewajiban membawa suara buruh, memperjuangkan dan mengegolkan aspirasi mereka.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea menyebut, bergabungnya Said Iqbal ke pemerintahan akan menjadi sinergitas yang baik.
"Kekuasaan dan pimpinan buruh yang memilih di luar pemerintahan untuk saling mendukung terhadap perjuangan buruh Indonesia," katanya. Sinyal dukungan ini disampaikan sebagai gerakan buruh.
Prabowo tampak menerapkan strategi merangkul. Lebih memilih persatuan daripada perbedaan. Setidaknya itu yang dia sampaikan di berbagai pidato. Ini terbukti dari gemuknya Koalisi Indonesia Maju (KIM).
Merangkul kelompok buruh berarti mengurangi potensi gejolak buruh di tengah tekanan ekonomi global, pelemahan rupiah, dan harga komoditas. Iqbal sendiri adalah tokoh buruh yang paling vokal saat ini.
Membawa Iqbal ke Istana berarti mendekatkan kepentingan buruh dengan pemerintahan, tetapi juga bisa berarti menjinakkan mereka. Iqbal sendiri sepertinya memahami konsekuensi itu. (EER)