JAKARTA, AFU.ID — Seorang perempuan warga asal Jakarta, Siti Sri Mulati yang berusia 72 tahun, membangun jalan sepanjang 2,5 kilometer dan dua jembatan di Desa Plumbon, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Diketahui, seluruh biaya pembangunan ia tanggung sendiri, mulai dari tabungan pribadi hingga hasil penjualan perhiasan emas miliknya.
Perempuan yang akrab disapa Siti Sudar itu mengaku sudah memendam keinginan membuka akses jalan tersebut selama 20 tahun. Ia tergerak setelah berulang kali menyaksikan sulitnya warga desa asal suaminya mengangkut hasil hutan dan hasil pertanian. Jalan tanah selebar 3,5 meter yang kini membelah hutan jati tersebut mengubah drastis waktu tempuh warga menuju lahan pertanian di tengah hutan.
Berdasarkan keterangan warga, untuk mengangkut hasil pertanian, mereka biasanya memakan waktu lebih dari lima jam melalui jalan setapak yang memutar sebelum adanya pembangunan jembatan tersebut. Namun, saat ini warga hanya butuh sekitar 20-30 menit, baik dengan berjalan kaki maupun kendaraan bermotor.
Sebagai bentuk penghargaan, warga setempat menamai jalan itu "Jalan Siti Sudar", sesuai nama panggilan sang penggagas. Siti mengungkapkan, tingginya harga emas belakangan ini turut membantunya mengumpulkan dana untuk menyewa alat berat, membangun jembatan, membeli material, hingga membebaskan sebagian lahan warga.
Sebelum memulai pembangunan, ia lebih dulu meminta restu suami dan anak-anaknya. "Sekarang ini ya sudah waktunya kali ya, saya sudah lama berniat untuk itu saya keluarkan tabungan saya," kata Siti sebagai mana dikutip dari KompasTV, Rabu (8/7/2026).
Lebih lanjut, pembangunan jembatan tersebut diketahui mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak. Salah satu dukungan berupa sejumlah pemilik lahan mewakafkan tanah mereka, terdapat juga pihak yang turut menjual lahan jauh di bawah harga pasar. Tak hanya itu, proses pengerjaan juga diketahui dibantu material dan tenaga sukarela dari warga maupun donatur. Meski demikian, Siti enggan menyebutkan total biaya yang telah ia keluarkan.
Mantan perawat yang pernah menjabat manajer di salah satu rumah sakit di Jakarta Barat ini menegaskan, seluruh pembiayaan murni berasal dari kantong pribadinya dan dilandasi niat ikhlas untuk membantu warga. "Ya semoga Allah memurahkan biayanya, dan jadi murah. Ya Allah mudah-mudahan dijadikan yang baik, bermanfaat bagi masyarakat sini. Jadi itu murni pribadi saya," ujarnya.
Ia berharap keberadaan jalan tersebut dapat mempermudah warga mengangkut hasil bumi sekaligus mendongkrak pendapatan mereka. "Semoga diberikan kemudahan pelancaran bagi semua orang yang ke sini. Saya ingin membantu mereka bahwa naik ke sini, maka meningkatlah pendapatannya ya, karena ini sudah tidak kayak dulu lagi, jalan mesin susah-susah sehari. Sekarang 10 menit juga sudah sampai, bisa bahwa hasil bumi dan lainnya," tuturnya.
Salah satu warga, Suratman, membenarkan perubahan besar yang terjadi di kawasan tersebut. Menurutnya, wilayah itu dulu hanya berupa hutan dan ladang tanpa jalan yang layak. "Kondisinya dulu ya seperti hutan ini. Ladang-ladang seperti ini," ujar Suratman dalam kesempatan yang sama.
Ia menambahkan, jalan yang ada sebelumnya hanya berupa jalan setapak dengan lebar yang jauh lebih sempit dibanding sekarang. Lebih jauh, selain jalan dan jembatan, Siti bersama keluarga dan para donatur juga membangun sebuah pondok singgah di tengah hutan. Pondok tersebut diketahui disiapkan sebagai tempat istirahat, beribadah, atau berteduh bagi warga dan petani yang beraktivitas di kawasan hutan. (NAD)