JAKARTA, AFU.ID - Kebahagiaan Keisha, seorang mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad), usai diterima di Program Studi Administrasi Pemerintahan lewat jalur prestasi akademik mendadak berubah menjadi duka. Sosoknya mendadak menjadi perhatian publik nasional setelah interaksinya dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam sesi kuliah umum interaktif dalam rangkaian kegiatan Prabu 2026 di kampus Jatinangor pada Senin (10/08/2026) memicu kontroversi luas di media sosial.
Usai wawancara terbuka tersebut menyebar luas, kondisi psikologis Keisha dikabarkan memburuk hingga merasa malu dan kehilangan semangat untuk melanjutkan perkuliahannya. Isu terpuruknya mental mahasiswa baru ini mencuat ke publik setelah rekan-rekan dan jajaran alumni Program Studi Administrasi Pemerintahan Unpad menyebarkan imbauan solidaritas. Dalam tangkapan layar percakapan grup WhatsApp bertajuk Adpem Career, perwakilan ikatan mahasiswa menyampaikan pesan terbuka yang ditujukan kepada para alumni.
"Selamat Malam Akang/Teteh Alumni Adpem yang saya hormati, Belakangan ini kita sama-sama melihat situasi yang dialami oleh Keisha Adpem'26, dalam rangkaian kegiatan Prabu 2026 berkesempatan untuk wawancara dengan Gubernur Jawa Barat yang kemudian menjadi perhatian publik saat ini karena pada kesempatan tersebut, yang bersangkutan mendapatkan perlakuan dan ucapan yang kurang mengenakkan baik mengenai Program Studi Administrasi Pemerintahan serta kehidupan pribadi Keisha," demikian bunyi pembuka pesan tertulis tersebut, yang diterima redaksi Afu.id, Rabu (19/8/2026).
Pesan itu kemudian membeberkan dampak buruk yang dialami sang mahasiswa baru usai momen wawancara tersebut viral. "Dan pada saat ini kondisi Keisha sedang tidak baik-baik saja karena merasa malu dan kehilangan semangat untuk berkuliah di Adpem dan Unpad. Sebagai keluarga besar Administrasi Pemerintahan, rasanya penting bagi kita untuk hadir memberikan dukungan, semangat, dan motivasi kepada Keisha. Terlepas dari dinamika yang terjadi, semoga Keisha tetap kuat, tidak kehilangan semangat, dan terus melangkah dalam menjalani proses pendidikannya," lanjut pesan tersebut.
Guna menguatkan mental Keisha, pengurus grup mengajak para alumni mengirimkan ucapan semangat melalui format pesan bertuliskan Pesan-Nama-Adpem- Tahun Angkatan. Mereka berharap dukungan tersebut dapat dirangkum sebagai bentuk bahwa Keisha tidak berjalan sendirian dan menunjukkan keluarga besar Adpem selalu punya ruang untuk saling menguatkan.
Mundurnya semangat kuliah Keisha berawal dari respons dan rentetan pertanyaan Dedi Mulyadi yang dinilai warganet sangat menyudutkan serta bernada sarkastis di hadapan ribuan mahasiswa. Dalam forum terbuka itu, Keisha secara jujur membeberkan latar belakang keluarganya yang penuh keterbatasan, di mana sang ayah tidak pernah memberi nafkah dan dukungan finansial yang memadai.
Sang ibu terpaksa bekerja keras seorang diri demi menghidupi Keisha dan dua adiknya, sementara sang nenek yang selama ini menjadi tempat bergantung telah meninggal dunia. Keisha mengaku termotivasi kuliah untuk membuktikan diri kepada sanak saudara yang pernah memandangnya sebelah mata.
Alih-alih memberikan simpati utuh atas perjuangan Keisha yang lolos murni lewat jalur prestasi, respons Dedi Mulyadi justru dianggap tidak empati saat menanggapi krisis keluarga sang mahasiswa. "Kenapa kamu dilahirkan dari bapak yang tidak bertanggung jawab, pilih yang bertanggung jawab dong," ujar Dedi Mulyadi dalam percakapan yang kemudian viral tersebut.
Pertanyaan itu dijawab lirih oleh Keisha sambil menahan rasa sedih. "Ya enggak tahu, kan enggak bisa milih nasib," jawab Keisha.
Perdebatan publik semakin memuncak kala sang gubernur ikut mempertanyakan serta mengritik pilihan program studi yang diambil Keisha. Dedi menyebut jurusan Administrasi Pemerintahan sudah terlalu banyak dan membandingkannya dengan penataan tenaga kerja daerah yang sedang menumpuk. "Udah kebanyakan. Yang sekarang aja P3K belum diangkat jadi pegawai negeri sipil semua, ini nambah lagi nih jurusan," tutur Gubernur yang akrab disapa KDM itu.
Saat Dedi mempertanyakan mengapa ia tidak mengambil jurusan kedokteran, Keisha kembali menjelaskan keterbatasan latar belakang ekonomi serta jurusan sekolah asalnya. "Kan enggak ada biayanya pak. Aku kan dari IPS. Bukan dari IPA," jelas Keisha.
Selain jajaran pertanyaan tersebut, netizen juga menyindir beberapa kelakar Dedi di panggung yang dinilai tidak sensitif, seperti saat menyindir kondisi makan sekali sehari hingga berseloroh agar Keisha diangkat anak oleh Kepala Bapenda Jabar. "kamu makan sehari cuman sekali? sama dong kayak saya, kategori miskin ini," ujar KDM.
Meski demikian, sesi interaktif tersebut sebenarnya ditutup dengan aksi simpati konkret dari Dedi Mulyadi. Sang Gubernur Jawa Barat mengumumkan siap menanggung biaya kuliah Keisha selama lima semester, sementara fasilitas tempat tinggal atau kos selama dua tahun ditanggung oleh alumni Unpad. "Semesterannya aku bayarin 5 semester. Kamu bayar biaya kosnya dibayarin 2 tahun nanti sama Pak Asep alumni Unpad," kata KDM.
Namun, kompensasi finansial tersebut rupanya tak serta-merta menghapus trauma psikologis akibat pembongkaran privasi keluarga di ruang publik. Gaya komunikasi KDM pun mendapat reaksi keras netizen di platform X. "EH SEDIH BANGET YA AMPUNN.. jujur liat videonya aja gue marah bgt sama kdm kdm itu. HUHU kasian banget baru jga jdi maba udh dapet pengalaman ga ngenakin gni," ujar akun @lalalalalalosty.
"Anak baru lulus SMA, belum juga start kuliah udah di permalukan depan umum begitu, begimane kaga ilang semangatye, kita yang udah tuwir juga bakal hilang muka kalo kejadian begitu. Semangat keishaaa," tulis akun @Xlosely. Tragedi yang menimpa Keisha kini memicu diskursus luas mengenai batas etika pejabat publik saat berinteraksi dengan mahasiswa di ruang terbuka. (MAR)