JAKARTA, AFU.ID - KH Anwar Zahid yang sempat mengalami kecelakaan lalu lintas di Bojonegoro, merupakan ulama yang terkenal dengan dakwahnya yang membumi dan kerap dibumbui humor. Salah satu celetukan yang paling populer dan menjadi ikon dakwahnya adalah "Qul hu wae lek, kesuwen!" yang berakar dari potongan nama Surah Al-Ikhlas dan kerap menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.
Alih-alih terkesan menggurui, materi yang diangkat berfokus pada masalah ubudiyah, amaliyah, dan syari'ah praktis sehari-hari. Beliau piawai menyentuh persoalan masyarakat kelas menengah ke bawah, mulai dari konflik antartetangga hingga urusan rumah tangga dan keuangan suami istri.
Dalam setiap tausiah, ia kerap menyindir perilaku negatif masyarakat secara langsung. Guyonan tersebut membuat para jamaah tertawa sekaligus menyadari kesalahannya, sehingga substansi pesan agama dapat diserap dengan mudah tanpa merasa dihakimi.
KH Ahmad Anwar Zahid, atau yang akrab disapa Abah Anza, merupakan pendakwah kondang kelahiran 11 Malkan 1974 asal Dukuh Patoman, Desa Simorejo, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Berada di bawah naungan tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah dan berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, penceramah yang juga pengasuh Pondok Pesantren Sabilunnajah ini dikenal memiliki daya tarik dakwah yang sangat kuat bagi berbagai lapisan masyarakat.
Pendidikan agama dasar Anwar Zahid dimulai langsung dari bimbingan sang ayah yang merupakan kiai kampung di desa setempat. Ia menempuh pendidikan formal dasar di Kompleks Pesantren At-Tanwir, Sumberejo, Bojonegoro. Pada tahun 1988, ia mulai menimba ilmu dengan nyantri di Pondok Pesantren Langitan, Tuban, di bawah asuhan langsung Romo KH Abdullah Faqih.
Di Langitan, bakat dakwah dan pemahaman agamanya mulai terasah secara mendalam. Atas restu KH Abdullah Faqih, ia kemudian melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Asrama Pesantren Ta'limul Quranil Adzim (APTQ) Sampurnan, Bungah, Gresik. Di pesantren tersebut, ia digembleng khusus untuk mendalami pelafalan, tafsir, hingga hafalan Al-Qur'an.
Bekal gemblengan dari Langitan dan APTQ Gresik inilah yang menjadi fondasi utama dalam menjalankan misi dakwah keumatannya hingga saat ini. Gaya dakwah KH Anwar Zahid memiliki keunikan tersendiri yang dinilai segar, lugas, dan sangat komunikatif. Ceramah Anwar Zahid selalu diselingi humor bermakna dan idiom bahasa Jawa dialek Bojonegoro yang khas.
Popularitas dakwah KH Anwar Zahid membuat jadwal pengajiannya sangat padat, bahkan mencapai 3 hingga 4 lokasi setiap harinya. Antrean permintaan jadwal pengajian dari para jamaah di berbagai daerah bahkan dilaporkan harus mengantre hingga beberapa tahun ke depan. Selain mengelilingi daerah di Indonesia, Anwar Zahid juga rutin diundang mengisi pengajian bagi para pekerja migran di luar negeri, seperti di Hong Kong, Korea Selatan, dan Malaysia.
Anwar Zahid juga dikenal tidak pernah mematok tarif atau memberikan target nominal kepada pihak yang mengundangnya. Di samping aktivitas panggung dakwah, KH Anwar Zahid mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Sabilunnajah di samping kediamannya di Bojonegoro yang menaungi jenjang MTs dan MA, di mana biaya hidup harian para santri ditanggung penuh oleh pihak pondok. Dia juga mengasuh kegiatan Dzikir Jamaah Maqoman Mahmudah yang digelar rutin setiap hari Ahad Kliwon dan Kamis malam Jumat bagi masyarakat luas. (MAR)