JAKARTA, AFU.ID - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas masyarakat di Kalimantan Selatan. Di Kota Banjarbaru, kualitas udara sempat berada pada kategori berbahaya, sementara jarak pandang yang menurun akibat asap membuat 12 penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarmasin, mengalami keterlambatan.
Berdasarkan data operasional Bandara Internasional Syamsudin Noor pada Rabu (19/8/2026), sebanyak empat penerbangan kedatangan mengalami keterlambatan akibat jarak pandang yang terganggu. Penerbangan tersebut terdiri dari Citilink QG 484 rute Surabaya-Banjarmasin, Citilink QG 1492 rute Balikpapan-Banjarmasin, Super Air Jet IU 628 rute Jakarta-Banjarmasin, dan Wings Air IW 1395 rute Balikpapan-Banjarmasin.
Selain itu, delapan penerbangan keberangkatan juga sempat mengalami keterlambatan. Penerbangan tersebut yakni Citilink QG 483 rute Banjarmasin-Jakarta, Super Air Jet IU 639 rute Banjarmasin-Jakarta, Wings Air IW 1394 rute Banjarmasin-Balikpapan, Lion Air JT 315 rute Banjarmasin-Surabaya, Lion Air JT 543 rute Banjarmasin-Semarang, Wings Air IW 1481 rute Banjarmasin-Samarinda, Citilink QG 485 rute Banjarmasin-Surabaya, dan Citilink QG 1493 rute Banjarmasin-Balikpapan.
General Manager Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin Stephanus Millyas Wardana mengatakan seluruh penerbangan yang terdampak kini telah kembali beroperasi. Menurut dia, keterlambatan terjadi akibat kondisi jarak pandang yang menurun karena kabut asap. "Saat ini seluruh penerbangan terdampak telah lepas landas dari Bandara Internasional Syamsudin Noor menuju tujuan masing-masing," kata Stephanus, Rabu (19/8/2026).
Pihak bandara mengimbau calon penumpang mengantisipasi kondisi tersebut dengan datang lebih awal. Penumpang disarankan sudah berada di bandara tiga jam sebelum keberangkatan, menyelesaikan proses check-in dua jam sebelum jadwal penerbangan, serta berada di ruang tunggu satu jam sebelum pesawat berangkat. Pengguna jasa juga diminta menjaga kesehatan selama kabut asap berlangsung, antara lain dengan menggunakan masker dan rutin mencuci tangan.
Kualitas Udara Memburuk
Gangguan akibat kabut asap tidak hanya terjadi pada sektor penerbangan. Kualitas udara di Kota Banjarbaru pada Rabu pagi juga sempat masuk kategori berbahaya akibat tingginya konsentrasi partikulat halus atau PM2.5. Berdasarkan pemantauan BMKG, kualitas udara pada pukul 05.00 hingga 08.00 WITA berada pada kategori berbahaya. Kondisi kemudian membaik pada pukul 09.00 WITA, meski masih berada dalam kategori sangat tidak sehat dengan konsentrasi PM2.5 mencapai sekitar 178,1 mikrogram per meter kubik.
Memasuki pukul 10.00 hingga 12.00 WITA, kualitas udara kembali membaik dan berada pada kategori sedang. Namun, kabut asap masih menyelimuti Banjarbaru dan cenderung lebih pekat pada pagi hari. Kondisi serupa juga berdampak pada kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor. Penurunan jarak pandang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami keterlambatan.
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok yang memiliki gangguan pernapasan. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara kembali memburuk, menggunakan masker, serta menjaga kondisi tubuh. Potensi kabut asap masih terbuka seiring kondisi musim kemarau yang membuat lahan lebih kering dan mudah terbakar.
Singapura Terimbas
Dampak kebakaran di Sumatra dan Kalimantan juga mulai menjadi perhatian Singapura. Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) memperingatkan negara kota tersebut berpotensi mengalami kabut asap apabila kebakaran hutan dan lahan di Indonesia semakin meluas. Dalam imbauan yang dipublikasikan Senin (17/8), NEA menyebut titik panas yang disertai kepulan asap terpantau terutama di wilayah Sumatra bagian selatan dan tengah serta sejumlah wilayah di Kalimantan.
"Kondisi kering diperkirakan akan terus berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Dengan angin yang saat ini bertiup dari arah tenggara atau barat daya, Singapura dapat mengalami kondisi berkabut asap jika kebakaran semakin meluas," kata NEA. Pemantauan akan terus dilakukan sambil melihat perkembangan situasi dan menerbitkan imbauan harian mengenai kabut asap apabila Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam memasuki kategori tidak sehat.
Saat ini, Monsun Barat Daya masih berlangsung di Singapura dan wilayah sekitarnya. Angin diperkirakan bertiup dari arah tenggara atau barat daya, kondisi yang dapat membawa asap dari wilayah terdampak kebakaran di Indonesia menuju Singapura. Meski hujan petir lokal berdurasi singkat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Singapura dalam beberapa hari mendatang, NEA memperkirakan total curah hujan pada paruh kedua Agustus 2026 berada di bawah rata-rata di sebagian besar wilayah negara tersebut. (EER)