JAKARTA, AFU.ID — Kualitas udara di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, masuk kategori berbahaya setelah kebakaran yang telah berlangsung selama empat hari belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/BPLH mencatat konsentrasi partikel halus (PM2,5) di sekitar lokasi mencapai lebih dari 1.000 µg/m³ sehingga akses menuju sejumlah area dibatasi demi keselamatan masyarakat.
Kebakaran yang terjadi sejak Selasa (30/6/2026) itu masih terus ditangani. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sekitar 30 persen area yang terbakar telah berhasil dipadamkan hingga Jumat. Meski demikian, angin kencang masih menjadi kendala utama yang memperlambat proses pemadaman. Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, mengatakan petugas memanfaatkan kondisi angin yang lebih tenang pada pagi hingga malam hari untuk memaksimalkan proses pemadaman.
"Sementara ini kita bisa melihat, ini kalau pagi hari anginnya enggak terlalu kencang. Kawan-kawan petugas ini pun juga bekerjanya dimaksimalkan itu pada saat dari pagi, siang, malam," ujar Djohan. BNPB mengerahkan dua helikopter water bombing dan 18 unit mobil pemadam kebakaran untuk menjangkau titik api yang sulit dipadamkan dari darat. Selain itu, 30 personel Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan juga diterjunkan untuk menerapkan metode inject, yakni menyuntikkan air ke bagian dalam timbunan sampah yang masih menyimpan bara api.
"Jadi sistem inject ini nanti dibuat pipa. Nanti pipa itu dibolongin, termasuk juga nanti dari Manggala Agni yang sudah biasa melakukan itu," kata Djohan. Di lokasi, dua helikopter water bombing terus melakukan penyiraman dari udara, sementara alat berat jenis ekskavator digunakan untuk mengurai gunungan sampah agar petugas dapat menjangkau titik api yang berada di bagian dalam dan mencegah bara kembali menyala.
Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana untuk mempercepat penanganan. Sebanyak 32 kepala keluarga juga telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman, sementara tim medis disiagakan dan 100 set masker debu serta asap dibagikan kepada warga terdampak.
KLH menduga kebakaran dipicu cuaca panas yang memunculkan titik api pada timbunan sampah setinggi 20–30 meter. Meski begitu, penyebab pasti kebakaran masih akan diselidiki setelah kondisi darurat berhasil dikendalikan. Saat ini akses menuju kawasan TPA Jatiwaringin juga dibatasi dan hanya diperbolehkan dilalui kendaraan operasional penanganan kebakaran, TNI, Polri, tenaga medis, dan instansi terkait. (RAI)