JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 231 warga mengungsi setelah kebakaran melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan para pengungsi terdiri atas 137 orang dewasa, 60 anak-anak, 26 balita, tujuh lanjut usia, satu ibu hamil, dan satu penyandang disabilitas.
Para pengungsi tersebut sementara ditempatkan di Balai Desa Tanjakan Mekar. Berbagai bantuan pangan, logistik, dan peralatan medis berupa 15 unit oksigen konsentrator, enam oksimeter, tiga air purifier, 11.500 masker bedah, dan 5.000 pasang sarung tangan medis telah disalurkan ke lokasi pengungsian. Dampak kebakaran tidak hanya memaksa ratusan warga mengungsi, tetapi juga memicu gangguan kesehatan. Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat sedikitnya 154 warga mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat terpapar asap.
Berdasarkan hasil pengukuran Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), kualitas udara di sekitar TPA Jatiwaringin telah berada pada level yang membahayakan. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai sekitar 1.000 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui baku mutu harian nasional sebesar 55 mikrogram per meter kubik. Sementara konsentrasi PM10 tercatat mencapai 750 mikrogram per meter kubik atau sekitar 10 kali lipat di atas ambang batas.
Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup KLH, Ridho Sani, menjelaskan kebakaran sampah menghasilkan berbagai polutan berbahaya, termasuk sulfur oksida (SOx) dan nitrogen oksida (NOx), akibat pembakaran plastik serta material lain. Menurutnya, pencemaran udara dari kebakaran TPA lebih berbahaya dibanding kebakaran hutan dan lahan karena melibatkan biomassa dan gas metana.
BNPB mencatat kebakaran menghanguskan sekitar 15 hektare area TPA Jatiwaringin. Hingga saat ini sekitar 40 persen area yang terbakar telah berhasil dipadamkan dan memasuki tahap pendinginan, sedangkan sisanya masih dalam proses pemadaman melalui jalur darat maupun udara. "Masih dilakukan untuk 60 persen daerah terbakar yang masih belum padam meski sudah bisa dikendalikan," kata Abdul, Minggu (5/7/2026)
Kebakaran di TPA Jatiwaringin mulai terjadi sejak Selasa, 30 Juni 2026. KLH menduga titik api muncul akibat cuaca panas yang memicu pembakaran pada timbunan sampah, namun penyebab pasti kebakaran masih menunggu hasil penyelidikan setelah kondisi darurat dinyatakan terkendali. (RAI)