JAKARTA, AFU.ID — Tantangan sektor keuangan digital nasional kini bergeser dari sekadar perluasan akses menuju kesejahteraan finansial masyarakat. Adopsi dompet digital, QRIS, dan investasi digital yang meningkat pesat di kalangan anak muda belum tentu sejalan dengan kemampuan mengelola keuangan. Persoalan ini disampaikan pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI), Heru Sutadi saat menyoroti perkembangan transformasi digital keuangan di Indonesia.
Penggunaan layanan keuangan digital di kalangan generasi muda tercatat terus meningkat seiring kecakapan mengadopsi teknologi finansial untuk menunjang gaya hidup. “Tantangannya kini bukan lagi mendorong adopsi, melainkan memastikan penggunaan layanan tersebut dilakukan secara bijak, aman, dan produktif sehingga benar-benar meningkatkan kesejahteraan finansial,” kata Heru, Sabtu (25/7/2026). Tanpa keseimbangan itu, transformasi digital dikhawatirkan hanya mengubah cara bertransaksi tanpa benar-benar mendongkrak kesejahteraan finansial penggunanya.
Peningkatan transaksi keuangan digital dinilai belum sepenuhnya mencerminkan naiknya literasi keuangan masyarakat. Tingginya frekuensi transaksi lebih banyak menggambarkan perubahan kebiasaan bertransaksi dibandingkan kemampuan mengelola keuangan. Meski demikian, kesadaran generasi muda terhadap pentingnya investasi dan perencanaan keuangan disebut mulai tumbuh seiring makin luasnya akses informasi.
Indikator literasi keuangan tidak hanya diukur dari kemampuan mengoperasikan aplikasi digital semata. Kemampuan menyusun anggaran, menabung secara rutin, serta berinvestasi turut menjadi tolok ukur penting. Pemahaman terhadap manfaat dan risiko setiap produk keuangan juga dinilai tak kalah krusial dalam menentukan tingkat literasi seseorang. “Masih banyak yang terjebak gaya hidup konsumtif, penggunaan paylater berlebihan, atau investasi tanpa memahami risikonya. Karena itu, literasi keuangan tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diperkuat,” ujarnya.
Kemampuan mengelola keuangan secara sehat di kalangan anak muda disebut berpotensi memberi kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan tabungan dan investasi akan mendorong pembentukan modal, sementara transaksi digital yang efisien turut memperkuat roda perekonomian. Akses pembiayaan yang sehat juga dinilai mampu melahirkan lebih banyak wirausaha baru di berbagai sektor.
Industri perbankan perlu bertransformasi dengan tidak hanya menyediakan aplikasi digital. Tetapi juga mendorong nasabah mengelola keuangan secara lebih baik. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, komunitas, dan berbagai platform digital dinilai lebih efektif meningkatkan literasi keuangan generasi muda dibandingkan sekadar promosi atau insentif sesaat. (NAD)