JAKARTA, AFU.ID – Banyak orang mengirim lamaran kerja ke berbagai perusahaan, tetapi pemberi kerja masih mengaku sulit menemukan calon karyawan yang sesuai kebutuhan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa banyaknya pencari kerja belum selalu sejalan dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia usaha. Badan Pusat Statistik mencatat angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang pada Februari 2026. Dari jumlah itu, 147,67 juta orang bekerja, sedangkan tingkat pengangguran terbuka masih berada di angka 4,68 persen.
Direktur Utama Center of Economic and Law Studies atau Celios Bhima Yudhistira menyebut persoalan tersebut bukan semata-mata karena kurangnya orang yang ingin bekerja. Dunia usaha, kata dia, masih menghadapi kesulitan mencari kandidat yang dinilai siap memenuhi kebutuhan pekerjaan.
“Data menunjukkan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 153 juta orang, namun hanya 12,66 persen yang memiliki pendidikan tinggi, dan lebih dari 30 persen perusahaan mengalami kesulitan merekrut talenta berkualitas,” kata Bhima, Senin (6/7/2026).
Kesenjangan itu terasa ketika pencari kerja memiliki ijazah, tetapi belum tentu memiliki kemampuan yang langsung dapat digunakan di tempat kerja. Perusahaan kini semakin mencari pekerja yang mampu mengoperasikan teknologi, menyelesaikan persoalan, berkomunikasi, bekerja dalam tim, serta menunjukkan pengalaman melalui portofolio atau sertifikasi.
Kebutuhan tersebut banyak muncul di sektor digital dan ekonomi kreatif, seperti pengembangan perangkat lunak, gim, animasi, desain, hingga produksi konten. Perusahaan membutuhkan pekerja yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengerjakan proyek dan mengikuti perubahan teknologi yang cepat.
Bhima menilai kesulitan mencari tenaga kerja terampil dapat membuat perusahaan lebih cepat beralih menggunakan kecerdasan buatan atau machine learning untuk mengisi pekerjaan tertentu. Perubahan itu dapat membuka jenis pekerjaan baru, tetapi juga berisiko memperlebar jarak bagi pencari kerja yang belum mendapat kesempatan meningkatkan keterampilan.
Masalah akses juga belum merata di berbagai daerah. Bhima mencatat sekitar 58 persen tenaga kerja ekonomi kreatif masih terkonsentrasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, sedangkan peluang di wilayah Indonesia Timur masih jauh lebih kecil. “Masalah yang paling krusial adalah gap karena konsentrasi geografis. Sebanyak 58 persen tenaga kerja industri kreatif masih tersedia di tiga provinsi Jawa, sementara wilayah Indonesia Timur sangat kecil,” ujarnya.
Konsentrasi tersebut membuat akses terhadap pelatihan, magang, jaringan profesional, dan perusahaan yang membuka pekerjaan digital belum dinikmati secara merata. Pencari kerja di luar pusat ekonomi sering kali harus pindah ke kota lain untuk mendapat peluang kerja yang lebih sesuai dengan keterampilannya.
Pemerintah, lembaga pendidikan, dan perusahaan didorong menyelaraskan pelatihan dengan kebutuhan dunia kerja. Magang, sertifikasi profesi, serta penguatan keterampilan digital menjadi bagian penting agar lulusan tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kemampuan yang benar-benar dibutuhkan perusahaan.
Masalah pencari kerja dan perusahaan yang sulit merekrut tidak akan selesai hanya dengan membuka lebih banyak lowongan. Yang perlu dibenahi adalah jalur agar pekerja dapat memperoleh keterampilan, pengalaman, dan akses kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. (RHU)