Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Motivasi Menurun, Awak Kapal USS Abraham Lincoln Saling Bunuh
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Sejumlah tentara Amerika Serikat yang bertugas di kapal induk USS Abraham Lincoln terlibat insiden saling bunuh yang mengakibatkan tujuh personel tewas, dipicu oleh motivasi dan moral yang menurun akibat lamanya penugasan di Laut Arab tanpa kejelasan waktu pulang. Media Iran melaporkan bahwa ketidakpuasan di antara awak kapal meningkat setelah penugasan mereka diperpanjang, yang menyebabkan aksi protes dan bentrokan fisik yang melibatkan senjata tajam. Komando Pusat AS belum memberikan keterangan resmi terkait peristiwa berdarah ini, sementara para keluarga tentara juga menyatakan protes keras terhadap keputusan pemerintah AS.
Sejumlah pesawat tempur AS berbaris di USS Abraham Lincoln. (Foto: Ist)
JAKARTA, AFU.ID — Sejumlah tentara Amerika Serikat (AS) yang menjadi awak kapal di United States Ship (USS) Abraham Lincoln terlibat saling bunuh. Sebanyak tujuh personel militer Negeri Paman Sam dikabarkan meregang nyawa dalam peristiwa berdarah itu. Dugaannya, motivasi para awak di kapal induk yang terus menurun menjadi pemicu utama konflik.
Tasnim, media Iran yang terafiliasi oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pertama kali melaporkan insiden tersebut. Mereka menerbitkan berita terjadinya bentrokan pada Senin (10/8/2026). Yang mana, sejumlah tentara di kapal berkode CVN-72 juga sebelumnya telah berkali-kali melakukan aksi unjuk rasa.
Sebagai informasi, AS mengirim USS Abraham Lincoln dari pangkalannya di San Diego pada November 2025. Kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz itu memasuki wilayah operasi Komando Pusat AS di Timur Tengah pada 26 Januari 2026. Kemudian berjaga di Laut Arab bersama sejumlah kapal perusak lainnya untuk mempersiapkan perang melawan Iran.
Melalui operasi epic fury, kapal induk sepanjang 332,8 meter tersebut berperan dalam wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Momen itu terjadi pada hari pertama pecahnya perang AS-Israel vs Iran pada 28 Februari 2026. Hingga kini, armada perang itu terus menjadi wadah pengangkut pesawat tempur dan unit militer Negeri Paman Sam yang lainnya.
Akan tetapi, lamanya waktu tugas membuat tentara AS mengalami demotivasi dan rasa lelah yang berkepanjangan. Peperangan yang tak kunjung selesai dan ketidakjelasan waktu pulang merusak moral para personel militer hingga ke titik terendah. “Awak kapal mengeluhkan makanan yang sangat sedikit, setengah cangkir nasi dan dua potong daging. Kemudian penutupan fasilitas penatu selama dua pekan dan lingkungan kamar mandi yang berjamur menyebabkan kontaminasi,” tulis Tasnim.
Media Iran tersebut bahkan melaporkan, para awak kapal USS Abraham Lincoln menggunakan senjata tajam dalam bentrokan yang terjadi. Alhasil, tujuh tentara tewas dan banyak yang mengalami luka serius. Komando Pusat AS (Central Command/CENTCOM) sendiri tak kunjung memberikan keterangan resmi terkait peristiwa berdarah itu.
USS Abraham Lincoln Bukan yang Pertama
Melansir Wana, media Iran lainnya, ketidakpuasan di antara awak kapal USS Abraham Lincoln meningkat pascapenugasan awal selama tujuh bulan diperpanjang. Oleh karenanya, kapal induk berbobot sekitar 99.790 ton itu tetap berada di Laut Arab untuk waktu yang lebih lama. Para keluarga awak kapal bahkan melayangkan protes keras kepada Pemerintah AS atas keputusan itu.
Salah seorang penasihat Jenderal Brad Cooper (Komandan CENTCOM) dilaporkan sampai harus datang langsung ke kapal induk tersebut untuk meredam amarah para tentaranya. Namun, Ia justru mendapat penentangan keras berupa cemooh dan lemparan botol tatkala berpidato di hadapan para awak kapal. “Konfrontasi verbal kemudian berubah menjadi fisik, dengan pisau dan senjata tajam lainnya memperparah kekerasan,” tulis Wana.
Rupanya, insiden USS Abraham Lincoln bukan yang pertama menghiasi kisah perang AS-Israel vs Iran. Pada 12 Maret 2026, USS Gerald R Ford dilaporkan mengalami kebakaran di area akomodasi. Sekitar 200 dari 600 awak kapal induk bertenaga nuklir terbesar dan tercanggih milik Negeri Paman Sam itu terluka.
Setelah personel yang terluka diangkut ke fasilitas angkatan laut AS di Pulau Kreta, Yunani, USS Gerald R Ford terpaksa menjalani perbaikan di kampung halamannya. Alhasil, USS Abraham Lincoln mengambil alih misi di Laut Arab yang membuat para awak kapal semakin tertekan. (ADR)