JAKARTA, AFU.ID — Tujuh personel Angkatan Laut Amerika Serikat dilaporkan tewas dalam bentrokan antarpersonel di atas kapal induk USS Abraham Lincoln yang tengah dikerahkan di kawasan Samudra Hindia. Klaim tersebut pertama kali diberitakan kantor berita Iran, Tasnim News Agency, dengan mengutip sumber militer yang tidak disebutkan identitasnya. Hingga kini, laporan mengenai tujuh korban tewas tersebut belum mendapat konfirmasi resmi dari Angkatan Laut AS maupun Komando Pusat AS atau CENTCOM.
Menurut laporan Tasnim yang dikutip sejumlah media, insiden bermula ketika seorang penasihat Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mendatangi USS Abraham Lincoln. Kedatangannya disebut untuk merespons keluhan para awak kapal mengenai masa pengerahan yang berlangsung sangat panjang. Situasi disebut memanas saat penasihat tersebut berbicara di hadapan para personel.
Sumber yang dikutip Tasnim menyebut penasihat tersebut mendapat cemoohan hingga lemparan botol air. Ketegangan kemudian dilaporkan berkembang menjadi perkelahian fisik antarpersonel kapal dengan penggunaan pisau dan benda tajam lainnya. Tujuh personel diklaim tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut.
Laporan mengenai bentrokan itu muncul di tengah persoalan nyata mengenai panjangnya masa pengerahan USS Abraham Lincoln. Stars and Stripes melaporkan kapal induk tersebut telah dikerahkan selama lebih dari delapan bulan dengan sekitar 5.000 pelaut dan Marinir berada di dalamnya. Keluarga para personel mulai menyuarakan kekhawatiran mengenai kelelahan, kesehatan mental, dan dampak penugasan berkepanjangan.
Kapal induk tersebut bahkan telah menghabiskan lebih dari 200 hari berturut-turut di laut. Pada awal Juli, USS Abraham Lincoln melewati hari ke-207 tanpa kunjungan pelabuhan, melampaui rekor pengerahan tanpa henti kapal induk AS yang sebelumnya tercatat pada masa pandemi Covid-19. Kondisi tersebut disebut menjadi ujian berat bagi ketahanan fisik dan psikologis awak kapal.
Keresahan keluarga mencuat dalam pertemuan dengan pejabat tinggi Angkatan Laut AS di San Diego. Sekitar 200 anggota keluarga personel menghadiri pertemuan tersebut dan mempertanyakan kondisi awak kapal serta ketidakjelasan jadwal kepulangan mereka. Persoalan kesehatan mental menjadi salah satu kekhawatiran utama yang disampaikan kepada pimpinan Angkatan Laut.
USS Abraham Lincoln sebelumnya dikerahkan ke kawasan Timur Tengah ketika ketegangan Amerika Serikat dan Iran meningkat. Kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz tersebut menjadi bagian dari kekuatan laut AS yang beroperasi di kawasan setelah Washington meningkatkan operasi militernya. CENTCOM sendiri masih melaporkan berbagai operasi dan serangan terhadap Iran sepanjang Juli 2026.
Meski konteks pengerahan panjang dan kekhawatiran keluarga awak telah diberitakan media militer AS, klaim mengenai perkelahian yang menewaskan tujuh personel masih perlu dibaca secara hati-hati. Sumber awal laporan berasal dari media Iran di tengah konflik terbuka dengan Amerika Serikat, sedangkan identitas tujuh personel yang disebut tewas juga belum diumumkan. Hingga penelusuran pada Rabu (12/8/2026), belum ditemukan pernyataan resmi Angkatan Laut AS maupun CENTCOM yang mengonfirmasi bentrokan tersebut.
Karena itu, jumlah korban dan kronologi penggunaan senjata tajam belum dapat dianggap sebagai fakta yang telah diverifikasi secara independen. Namun, laporan tersebut muncul ketika tekanan terhadap awak USS Abraham Lincoln akibat pengerahan berkepanjangan memang sedang menjadi sorotan di Amerika Serikat. Konfirmasi resmi dari militer AS menjadi kunci untuk memastikan apakah bentrokan maut tersebut benar terjadi seperti yang diberitakan media Iran.
(RHU)