JAKARTA, AFU.ID - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengunjungi China, Rabu malam (13/5/2026) waktu setempat. Trump datang dengan pesawat kepresidenan Air Force One, didampingi 30 pengusaha, diantaranya Elon Musk (Tesla), Jensen Huang (Nvidia), Tim Cook (Apple), Kelly Ortberg (Boeing), David Solomon (Goldman Sachs), Sanjay Mehrotra (Micron), dan Cristiano Amon (Qualcomm).
Selain mengadakan pertemuan bilateral dengan pemimpin China, Xi Jinping, ia juga mengunjungi situs bersejarah Temple of Heaven. Donald Trump sendiri membawa serta putra dan menantunya, Eric dan Lara Trump.
Lawatan ini tidak terlihat seperti pertemuan antar sahabat. Beda dengan kunjungan Barack Obama tahun 2009 dan 2014, kedatangan Donald Trump ini nuansanya lebih pragmatis. Meskipun senyum dan puja-puji diumbar Donald Trump sepanjang lawatan, tak ada yang menyangkal pertemuan ini adalah agenda ekonomi dan politik praktis, tanpa nuansa kemesraan.
Pengamat intelijen Ridlwan Habib menyebut, "Trump terlihat kaku dan canggung, banyak memuji, serta manggut-manggut. Ini bukan Trump yang terkenal arogan," katanya. Di rangkaian pertemuan itu pundak Xi Jinping dalam posisi tinggi, dada terbuka lebar, rileks, namun berwibawa dan mendominasi.
USA Today mengabarkan, pertemuan dengan Xi akan membahas logam tanah jarang, artificial intelligence (AI), konflik di Iran, dan Taiwan, dan tentu saja tentang tarif global Amerika yang akan dibalas oleh China.
Dibalut sambutan yang meriah dari tuan rumah, ketegangan masih jelas terasa. Xi Jinping tak menyambut Trump di bandara. Dan meski Trump terus memuji Xi, kesannya garing. "Anda adalah pemimpin besar. Kadang orang tidak suka saya mengatakan itu. Saya hanya mengatakan kebenaran," ujar Trump.
Perkataan ini berkebalikan dengan tradisi Trump yang terus menyerang China. "Kita tidak bisa terus membiarkan China memperkosa negara kita, dan itulah yang mereka lakukan," katanya dalam berbagai kesempaan kampanye di tahun 2016.
Trump bahkan menuding China telah merampok Amerika Serikat dan menggambarkan Covid-19 sebagai virus China.
Sementara itu, Xi Jinping cenderung berpidato standar, mewakili keadaan riil yang dihadapi. "Kita seharusnya menjadi mitra, bukan lawan, saling mencapai keberhasilan, berkembang bersama, dan membangun cara yang tepat bagi negara-negara besar di era baru untuk hidup berdampingan," tambah Xi.
Posisi Amerika Terpojok
Pada saat ini posisi Amerika Serikat sedang tidak karuan. Di antara para sekutu utamanya, AS mengalami delegitimasi masif, karena para penyokong setianya satu per satu telah mendekat ke China.
PM Spanyol Pedro Sánchez sudah terlebih dahulu ke China. Demikian juga Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin, Perdana Menteri Finlandia Petteri Orpo, bahkan Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen.
Mereka mengadakan pembicaraan yang jelas terkait hubungan ekonomi dan perdagangan dengan China. Sebaliknya, Amerika Serikat malah terus berlaku antagonis.
AS menarapkan tarif mahal kepada China. Untuk kebanyakan produk biasa, China kena tarif 10 persen, lebih tinggi lagi untuk produk hijau dan logam tertentu, dan komoditas khusus seperti mobil listrik kena100 persen.
Maka para pelaku bisnis di AS khawatir, kebijakan Trump tentang tarif itu laksana menancapkan pisau ke tubuh sendiri. Faktanya, China saat ini mendominasi manufaktur global hingga sepertiga dunia.
Negeri tirai bambu itu kini menguasai banyak bahan baku, termasuk lebih dari 70% tanah jarang (rare earths), dan telah sangat maju di bidang militer. Untuk AI, China adalah raja dunia.
Para jurnalis Wall Street menyebut, sebenarnya Amerika Serikat sangat membutuhkan kerja sama ekonomi dengan China. Selain itu juga butuh pengaruh diplomatik Beijing yang kian moncer, berbanding terbalik dengan citra Amerika. Krisis geopolitik Iran bisa makin kisruh apabila China sedikit saja mengail di air keruh.
Siapa "Memaksa" Trump?
Ada dua faktor utama yang memaksa Donald Trump "sungkem" ke Xi Jinping. Yang pertama, AS membutuhkan resolusi perang dengan Iran yang tak dapat mereka hentikan.
Beberapa waktu yang lalu AS sempat mendesak China menggunakan pengaruhnya untuk membuka kembali Selat Hormuz. Tapi Beijing tak merespon.
Selat Hormuz itu jalur tradisional bagi 20 persen minyak dunia. Dengan blokade Iran, harga minya dunia telah naik sekitar 8 persen. Akan sangat indah bagi AS apabila China menekan Iran untuk melepaskan selat Hormuz, mengingat China adalah pembeli minyak dan gas terbesar Iran.
Namun harapan itu tak realistis karena Beijing malah cenderung mendukung Iran. Sementara itu operasi Project Freedom yang digelar Washington di Hormuz tak membuahkan hasil sampai logistik pertahanan AS jauh menipis.
Yang kedua, para pebisnis AS realistis bahwa mereka memiliki ketergantungan atas logam tanah jarang (rare earth minerals) yang dibutuhkan oleh industri teknologi tinggi dan militer.
Kedua faktor ini saja sudah cukup menjadi alasan Trump untuk datang ke Beijing, meski dengan muka tembok. Di dalam negeri tekanan kepada Trump cukup keras.
Pelaku usaha resah dengan keadaan di mana AS teralienasi dari sumber-sumber bahan baku. Tak kurang Tim Cook (Apple), Elon Musk (Tesla), hingga Jensen Huang (Nvidia) telah "memaksa" Trump berbaik-baik dengan China.
Mereka melihat gejala AS terlepas diri (decoupling) dari rantai pasokan bahan baku teknoogi modern. Bahkan yang terkini, China akan menerapkan tarif balasan ekstrem hingga 84 persen.
Itu artinya beberapa komoditas AS sudah berada di tubir jurang kehancuran. Kepergian Donald Trump, ke China kabarnya juga didesak oleh Wall Street dan juga internal pemerintahannya sendiri. Dengan posisi seperti ini, apakah China akan netral atau memainkan kartunya? Yang kedua agaknya lebih masuk akal. (MJR)