JAKARTA, AFU.ID — Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump akan menemui Presiden China, yakni Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraan resmi.
Pertemuan dua kepala negara tersohor ini akan berlangsung di Beijing pada 14 dan 15 Mei 2026.
Trump sendiri telah meninggalkan Washington pada Selasa (12/5/2026) waktu setempat untuk memenuhi undangan dari Xi Jinping.
Presiden AS ke-45 da ke-47 tersebut pun telah tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026) hari ini.
Kunjungan Donald Trump ke China merupakan yang pertama kali pada periode keduanya.
Ia terakhir kali menemui Xi Jinping secara langsung di Beijing terjadi pada tahun 2017 lalu, atau di awal masa jabatannya.
Para pejabat Gedung Putih menyampaikan, pertemuan besok akan membahas mekanisme koordinasi perdagangan dan investasi baru.
Yang mana, berpotensi mencakup kerangka kerja ‘Dewan Perdagangan’ dan ‘Dewan Investasi’ formal untuk memfasilitasi keterlibatan ekonomi di masa mendatang.
Oleh karenanya, pertemuan Trump dan Jinping akan membentuk fase baru dari hubungan AS-China di tengah meningkatnya ketegangan global.
Posisi Tegas China
Meski begitu, Beijing menegaskan posisinya terhadap Washington menjelang pertemuan besok.
China bahkan memberi batasan kepada AS yang diberi nama ‘The Four Red Lines’ alias ‘Empat Garis Merah’.
Kedutaan Besar (Kedubes) China untuk AS, melalui akun X @ChineseEmbinUS, menyatakan bahwa hubungan bilateral antara kedua negara harus menghadirkan tiga dampak nyata
“China dan AS harus mengeksplorasi pembangunan hubungan yang strategis, konstruktif, dan stabil,” tulis Kedubes China untuk AS, dikutip AFU.ID, Rabu (13/5/2026).
Mereka kemudian menjelaskan makna ‘The Four Red Lines’ alias ‘Empat Garis Merah’ yang tak boleh Donald Trump langgar ketika bertemu Xi Jinping.
Keempatnya adalah isu-isu terkait Taiwan, demokrasi dan hak asasi manusia (HAM), sistem politik, dan hak pembangunan China.
Terakhir, Kedubes China untuk AS menekankan tiga prinsip yang harus terjalin dalam hubungan kedua negara.
“Rasa saling menghormati, koeksistensi damai, serta kerja sama saling menguntungkan tetap menjadi cara yang tepat bagi China dan AS untuk menjalin hubungan,” tulisnya lagi.
Konflik Geopolitik Tetap Jadi Isu Utama
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping tentu akan membahas kerja sama yang menguntungkan dari sisi ekonomi.
Namun melansir Times Now News, AS-China berpotensi mencapai kesepakatan untuk mengembangkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligent/AI) dan teknologi, khususnya electric vehicle (EV).
Terlebih lagi, Trump turut mengajak Jensen Huang (CEO Nvidia), Elon Musk (pemimpin Tesla dan SpaceX) beserta CEO perusahaan kelas wahid AS lainnya.
Meski begitu, konflik geopolitik antara Iran vs AS-Israel kemungkinan besar tetap menjadi isu utama dalam pertemuan besok.
Trump disinyalir akan memaksa Jinping memanfaatkan pengaruh Beijing terhadap Teheran untuk membantu membuka Selat Hormuz.
Termasuk mendorong negosiasi ulang AS dengan Iran yang bertujuan untuk meredakan ketegangan.
Hingga pada akhirnya, bertemunya Donald Trump dan Xi Jinping akan menjadi ujian besar apakah AS-China mampu mengelola persaingan strategis, tanpa mendorong ekonomi global dan tatanan geopolitik ke dalam ketidakpastian yang lebih dalam.
Berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan, seluruh mata dunia kini akan terus memantau hasil pertemuan Trump dan Jinping besok. (ADR)