JAKARTA, AFU.ID - Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu terlibat perdebatan sengit melalui sambungan telepon, Selasa (19/5/2026). Perselisihan ini dipicu keputusan Washington menunda serangan baru terhadap Teheran demi membuka ruang diplomasi.
Setelah serangkaian agresi militer yang gagal, Trump kini mendorong penyelesaian diplomatik Iran. Sementara Netanyahu bersikeras mengambil langkah militer.
Dalam keributan yang menjadi sorotan dunia itu, Trump disebut ingin mencegah eskalasi perang yang lebih luas. Setelah kehilangan banyak personil dan alat perang, Trump memilih cara realistis.
Meski AS mengeklaim hanya 13 tentaranya tewas, Iran melaporkan sebaliknya. Pada lima hari pertama saja Iran mengaku menewaskan 500 tentara AS-Israel.
Netanyahu mengkritik keras rencana gencatan senjata yang diusulkan AS. Menurutnya jalur militer adalah opsi yang lebih efektif.
Pembicaraan telepon pun berlangsung tegang selama satu jam tanpa konklusi. Rupanya terjadi perbedaan kepentingan strategis antara kedua sekutu tersebut.
Orang Gila yang Childish
Namun para pejabat Amerika mengatakan, Trump dan Netanyahu sering beradu argumen tentang strategi militer dan politik luar negeri. "Hubungan keduanya kompleks secara historis. Diwarnai pujian yang tinggi dan perdebatan yang sengit," kata pejabat AS.
Perbedaan pandangan keduanya berakar dari tekanan domestik yang berbeda. Trump menginginkan stabilitas ekonomi dan catatan diplomatik yang baik di mata rakyat AS.
Sementara Netanyahu ingin membawa cerita kemenangan untuk bahan kampanye pemilu yang akan datang. Ia juga memerlukan "keributan" untuk mengalihkan perhatian publiknya, agar isu korupsi yang menerpanya tetap beku.
Keributan ini bukan kali pertama Netanyahu tantrum di Washington. Ketegangan antara Netanyahu dan sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat sudah sering terjadi.
Pejabat AS kerap frustrasi dengan sikap Netanyahu yang membahayakan stabilitas regional akibat agresi yang ngawur.
Perselisihan terbuka pada awalnya dipicu oleh pendekatan Israel terhadap Suriah. Tahun lalu, setelah serangan Israel ke Suriah, Pentagon langsung ribut. Pejabat militer AS menyebut Netanyahu sebagai orang gila yang merusak segala strategi.
Para pejabat Gedung Putih, sebagaimana dikutip Axios, menyayangkan pengeboman kompleks kepresidenan Suriah, markas besar staf umum, dan kementerian pertahanan.
"Ia bertindak seperti orang gila, mengebom apa saja sepanjang waktu," kata seorang pejabat militer AS. Netanyahu disebut-sebut sebagai "erratic", "disruptive", dan "childish".
Senator Bernie Sanders memandang Netanyahu lebih mengutamakan kelangsungan politik pribadinya dan hanya ingin mempertahankan posisinya.
Sejauh ini aliansi AS dan Israel memang masih berjalan, namun AS mulai kehilangan legitimasi di mata kawan-kawan NATO-nya. Maka hubungan alinsi dengan Israel dalam jangka panjang dapat menjerumuskan AS ke jurang alienasi.
Terkait Iran, setelah perang 12 hari, sebenarnya AS inginkan perundingan. Akan tetapi Israel selalu menyeret ke arah konflik.
Itu karena Netanyahu sendiri telah disandera oleh mitra koalisi sayap kanan ekstremnya, yang secara agresif meminta perang.
Para penasihat utama Presiden Donald Trump kini semakin frustrasi. Lingkaran dalam kepresiden AS, seperti Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menantu Trump Jared Kushner, utusan perdamaian Steve Witkoff, dan kepala staf Gedung Putih Susie Wiles, sudah sangat kesal.
Seorang pejabat Gedung Putih mengindikasikan bahwa Netanyahu pada dasarnya telah kehilangan dukungan dari tim inti Trump, meskipun presiden sendiri masih berubah-ubah. (MJR)